Liputan6.com, Washington, DC - Seorang tentara pasukan khusus Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap otoritas federal. Ia diduga meraup lebih dari US$ 400.000 atau sekitar Rp 7,2 miliar dengan memasang taruhan atas kemungkinan Maduro dilengserkan dari jabatannya.

Dikutip dari ABC News, Selasa (27/10/2026), Departemen Kehakiman AS mengumumkan pada Kamis bahwa tentara bernama Gannon Ken Van Dyke itu diduga menggunakan informasi rahasia pemerintah untuk memasang taruhan di platform pasar prediksi Polymarket, beberapa hari sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan Maduro.

Penyelidik federal menyebut Van Dyke memasang taruhan senilai lebih dari US$33.000. Serangkaian taruhan tersebut menghasilkan keuntungan lebih dari US$409.000, sekaligus memicu kecurigaan di kalangan pelaku pasar prediksi dan penyelidikan selama berbulan-bulan mengenai dugaan penggunaan informasi orang dalam.

Van Dyke didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk penggunaan informasi rahasia secara ilegal untuk keuntungan pribadi, pencurian informasi pemerintah yang tidak tersedia untuk publik, penipuan komoditas, dan penipuan melalui sarana elektronik.

Menurut dakwaan, setelah memasang taruhan, Van Dyke melihat laporan mengenai aktivitas perdagangan tidak biasa yang berkaitan dengan misi penangkapan Maduro. Ia kemudian diduga berusaha menghilangkan bukti transaksi dengan mencoba menghapus akun Polymarket dan mengganti alamat email yang terdaftar pada akun bursa mata uang kriptonya.

“Alih-alih melindungi informasi tersebut sebagaimana kewajibannya, VAN DYKE memutuskan menggunakan informasi rahasia itu untuk melakukan perdagangan di platform pasar prediksi demi keuntungan pribadi,” demikian bunyi dokumen dakwaan.

Dokumen tersebut juga menyebut Van Dyke kemudian berusaha menyembunyikan penggunaan informasi rahasia pemerintah AS secara ilegal dengan mengaburkan sumber keuntungan yang diperolehnya serta menyamarkan keterkaitannya dengan akun-akun yang digunakan dalam transaksi tersebut.

Hingga laporan ini disusun, belum diketahui apakah Van Dyke telah memiliki pendampingan hukum.

Raup Keuntungan 1.242 Persen

Menurut keterangan otoritas, beberapa hari sebelum Trump mengumumkan penangkapan Maduro dalam operasi yang disebut Operation Absolute Resolve, Van Dyke memasang serangkaian taruhan di Polymarket.

Taruhan tersebut mencakup prediksi apakah Maduro akan lengser dari jabatannya sebelum 31 Januari dan apakah AS akan menginvasi Venezuela.

Trump sebelumnya menyampaikan bahwa operasi tersebut direncanakan secara cermat dan dilaksanakan pada malam hari.

“Kita kembali menjadi negara yang dihormati, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Trump setelah operasi tersebut.

“Para prajurit terlatih ini, yang bekerja sama dengan penegak hukum AS, menangkap mereka dalam posisi yang sangat siap,” lanjutnya.

Meski dokumen dakwaan tidak merinci keterlibatan Van Dyke dalam operasi penangkapan tersebut, jaksa menyebut ia pernah difoto di geladak kapal USS Iwo Jima, tempat Maduro dipindahkan setelah ditangkap. Dalam foto itu, Van Dyke terlihat mengenakan seragam militer dan memegang senapan bersama sejumlah personel militer lainnya.

Polymarket menyebut seorang pengguna yang membuat akun pada Desember 2025 memasang taruhan senilai US$ 33.933 dalam empat prediksi terkait invasi AS ke Venezuela dan penangkapan Maduro.

Taruhan terbesarnya, senilai US$ 32.537, dipasang pada prediksi bahwa Maduro tidak lagi menjabat pada 31 Januari. Taruhan itu menghasilkan keuntungan sebesar US$ 404.222, dengan tingkat keuntungan mencapai 1.242 persen.

Juru bicara Polymarket mengatakan perusahaan telah melaporkan aktivitas taruhan mencurigakan tersebut kepada Departemen Kehakiman AS dan bekerja sama dalam penyelidikan.

“Perdagangan berdasarkan informasi orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket. Penangkapan hari ini membuktikan bahwa sistem berjalan sebagaimana mestinya,” demikian pernyataan perusahaan yang diunggah melalui platform X.