Liputan6.com, Jakarta - Meta dilaporkan sempat melibatkan operator manusia untuk membantu menjalankan fitur panggilan pada AI agent Muse. Pengujian itu kemudian memunculkan persoalan privasi setelah seorang karyawan mengaku menemukan komentar bernada rasis dalam transkrip panggilan.
Dikutip dari Gizmodo, Kamis (24/9/2026), fitur human concierge memungkinkan manusia mengambil alih panggilan ketika suara AI Muse tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Meta menguji fitur tersebut sebagai bagian dari pengembangan kemampuan panggilan Muse.
Juru bicara Meta, Dave Arnold, mengatakan pengujian internal memang dilakukan untuk mendapatkan masukan sebelum fitur dirilis secara luas.
“Tujuannya adalah mendapatkan masukan agar kami bisa menerapkan perlindungan keamanan dan privasi serta meningkatkan fitur sebelum dirilis ke publik,” ujarnya.
Muse merupakan AI agent yang dirancang untuk menjalankan tugas atas nama pengguna. Salah satu kemampuannya adalah melakukan panggilan bisnis untuk menyelesaikan berbagai keperluan.
Misalnya, Muse bisa digunakan untuk melakukan reservasi potong rambut, menanyakan ketersediaan barang di toko, atau meminta penawaran dari penyedia jasa. Panggilan ini kemudian menghasilkan transkrip dan ringkasan percakapan.
Masalah muncul karena sebagian bisnis diketahui langsung menutup telepon setelah Muse memperkenalkan dirinya sebagai AI. Dalam percobaan internal Meta, seorang pengguna bahkan mengaku gagal meminta Muse menghubungi perusahaan asuransinya karena panggilan berulang kali dihentikan.
Situasi ini mendorong Meta menguji human concierge. Melalui fitur itu, operator manusia dapat mengambil alih panggilan tertentu agar tugas yang diminta pengguna tetap berjalan.
Namun, penggunaan manusia dalam proses tersebut menimbulkan kekhawatiran baru. Sejumlah karyawan mempertanyakan apakah informasi sensitif milik pengguna bisa diketahui operator saat mereka menangani panggilan.