Yang juga perlu diperhatikan, nominal token listrik yang dibeli tidak otomatis sama dengan jumlah kWh yang masuk ke meteran. Nilai tersebut dipengaruhi tarif listrik sesuai golongan pelanggan dan komponen seperti Pajak Penerangan Jalan (PPJ).
Ringkasan
Tarif listrik PLN pada 7-14 September 2026 masih mengikuti tarif Triwulan III 2026. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan tarif tenaga listrik pada periode tersebut tidak mengalami perubahan.
Artinya, pelanggan PLN tetap membayar listrik berdasarkan golongan dan daya yang digunakan. Perbedaan golongan ini penting diperhatikan karena tarif per kWh tidak sama untuk seluruh pelanggan.
Berikut daftar tarif listrik yang berlaku pada periode tersebut.
Tarif listrik pelanggan rumah tangga
Golongan | Daya | Tarif per kWh |
|---|---|---|
R-1/TR 900 VA-RTM | 900 VA | Rp1.352 |
R-1/TR | 1.300 VA | Rp1.444,70 |
R-1/TR | 2.200 VA | Rp1.444,70 |
R-2/TR | 3.500-5.500 VA | Rp1.699,53 |
R-3/TR, TM | di atas 6.600 VA | Rp1.699,53 |
Perlu dicatat, 900 VA-RTM berbeda dengan pelanggan 900 VA bersubsidi. Keduanya memiliki tarif yang berbeda sehingga pelanggan tidak boleh langsung menggunakan angka Rp1.352 per kWh untuk semua pelanggan dengan daya 900 VA.
Untuk rumah tangga bersubsidi, tarifnya jauh lebih rendah.
Tarif listrik pelanggan bisnis
Golongan | Daya | Tarif per kWh |
|---|---|---|
B-2/TR | 6.600 VA-200 kVA | Rp1.444,70 |
B-3/TM, TT | di atas 200 kVA | Rp1.114,74 |
Pelanggan bisnis dengan kapasitas lebih besar masuk dalam golongan berbeda. Karena itu, biaya listrik per kWh yang digunakan perusahaan tidak bisa disamakan dengan pelanggan rumah tangga.
Tarif listrik pelanggan industri
Golongan | Daya | Tarif per kWh |
|---|---|---|
I-3/TM | di atas 200 kVA | Rp1.114,74 |
I-4/TT | di atas 30.000 kVA | Rp996,74 |
Tarif terendah dalam daftar tersebut terdapat pada pelanggan industri I-4/TT dengan tarif Rp996,74 per kWh.
Angka ini menunjukkan bahwa tarif listrik tidak semata-mata ditentukan berdasarkan semakin besar daya maka semakin mahal harga setiap kWh. Struktur golongan pelanggan juga menentukan tarif yang berlaku.
Baca Juga: Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Satukan Pemimpin Sektor Ketenagalistrikan ASEAN dan Indonesia
Baca Juga: Apa Manfaat Pembangkit Listrik Tenaga Angin? Ini Ulasannya
Tarif listrik fasilitas pemerintah dan penerangan jalan umum
Golongan | Daya/Keterangan | Tarif per kWh |
|---|---|---|
P-1/TR | 6.600 VA-200 kVA | Rp1.699,53 |
P-2/TM | di atas 200 kVA | Rp1.522,88 |
P-3/TR | Penerangan jalan umum | Rp1.699,53 |
L/TR, TM, TT | - | Rp1.644,52 |
Tarif listrik pelayanan sosial
Golongan | Daya | Tarif per kWh |
|---|---|---|
S-1/TR | 450 VA | Rp325 |
S-1/TR | 900 VA | Rp455 |
S-1/TR | 1.300 VA | Rp708 |
S-1/TR | 2.200 VA | Rp760 |
S-2/TR | 3.500 VA-200 kVA | Rp900 |
S-2/TM | di atas 200 kVA | Rp925 |
Tarif pelayanan sosial memiliki struktur tersendiri. Tarif S-1/TR 450 VA, misalnya, tercatat Rp325 per kWh, jauh lebih rendah dibanding tarif rumah tangga non-subsidi.
Tarif listrik rumah tangga bersubsidi
Golongan | Daya | Tarif per kWh |
|---|---|---|
R-1/TR | 450 VA | Rp415 |
R-1/TR | 900 VA | Rp605 |
Perbedaan ini menjadi salah satu alasan pelanggan perlu memastikan golongan listrik pada meterannya sebelum menghitung biaya pemakaian ataupun jumlah kWh dari pembelian token.
Berapa harga token listrik PLN September 2026?
Token listrik tersedia dalam berbagai pilihan nominal. Namun, nominal yang dibayarkan pelanggan bukanlah jumlah kWh yang otomatis masuk ke meteran.
Misalnya, pelanggan membeli token Rp50.000. Uang tersebut akan dikonversikan menjadi energi listrik dalam satuan kWh berdasarkan tarif yang berlaku untuk golongan pelanggan.
Selain tarif, ada komponen lain yang dapat memengaruhi jumlah akhir kWh, salah satunya Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang ditetapkan pemerintah daerah.
Karena itu, token Rp50.000 tidak selalu menghasilkan jumlah kWh yang sama untuk setiap pelanggan.
Ini merupakan hal yang sering membingungkan pelanggan prabayar. Dua orang yang sama-sama membeli token dengan nominal Rp50.000 dapat memperoleh kWh berbeda apabila golongan pelanggan atau wilayahnya berbeda.
Token listrik Rp50.000 dapat berapa kWh?
Perhitungan sederhananya dapat menggunakan rumus:
(Nominal token - PPJ) ÷ tarif listrik = kWh
Sebagai ilustrasi, gunakan pelanggan di Jakarta dengan daya hingga 2.200 VA. Berdasarkan narasi yang menjadi acuan, PPJ untuk kelompok tersebut sebesar 2,4 persen.
Jika membeli token Rp50.000, PPJ secara sederhana adalah:
Rp50.000 × 2,4 persen = Rp1.200
Nilai setelah dikurangi PPJ:
Rp50.000 - Rp1.200 = Rp48.800
Apabila menggunakan tarif listrik Rp1.444,70 per kWh, maka:
Rp48.800 ÷ Rp1.444,70 ≈ 33,77 kWh
Jadi, dalam ilustrasi tersebut, token Rp50.000 menghasilkan sekitar 33,77 kWh.
Angka ini merupakan simulasi berdasarkan asumsi pelanggan dan PPJ tersebut, bukan angka yang berlaku universal bagi seluruh pelanggan PLN.
Token listrik Rp100.000 dapat berapa kWh?
Dengan asumsi yang sama, pelanggan di Jakarta dengan daya hingga 2.200 VA dikenai PPJ 2,4 persen.
PPJ:
Rp100.000 × 2,4 persen = Rp2.400
Nilai yang dihitung sebagai energi:
Rp100.000 - Rp2.400 = Rp97.600
Dengan tarif Rp1.444,70 per kWh:
Rp97.600 ÷ Rp1.444,70 ≈ 67,60 kWh
Artinya, dalam simulasi tersebut, pembelian token Rp100.000 menghasilkan sekitar 67,60 kWh.
Jika dibandingkan dengan token Rp50.000, jumlah kWh memang hampir dua kali lipat karena nominal pembelian juga dua kali lebih besar. Namun, angka tersebut tetap bergantung pada golongan dan PPJ yang digunakan.
Token listrik Rp200.000 dapat berapa kWh?
Untuk nominal Rp200.000 dengan asumsi pelanggan dan tarif yang sama, PPJ sebesar 2,4 persen adalah:
Rp200.000 × 2,4 persen = Rp4.800
Nilai setelah dikurangi PPJ:
Rp200.000 - Rp4.800 = Rp195.200
Kemudian:
Rp195.200 ÷ Rp1.444,70 ≈ 135,20 kWh
Jadi, berdasarkan simulasi tersebut, token Rp200.000 menghasilkan sekitar 135,20 kWh.
Ringkasan simulasi token
Nominal Token | PPJ 2,4% | Nilai setelah PPJ | Tarif | Perkiraan kWh |
|---|---|---|---|---|
Rp50.000 | Rp1.200 | Rp48.800 | Rp1.444,70 | 33,77 kWh |
Rp100.000 | Rp2.400 | Rp97.600 | Rp1.444,70 | 67,60 kWh |
Rp200.000 | Rp4.800 | Rp195.200 | Rp1.444,70 | 135,20 kWh |
Catatan: simulasi tersebut menggunakan asumsi PPJ Jakarta sebesar 2,4 persen dan tarif Rp1.444,70 per kWh. Hasil aktual pelanggan dapat berbeda berdasarkan daerah dan golongan masing-masing.
Mengapa jumlah kWh token listrik bisa berbeda?
Ada alasan sederhana mengapa pembelian token dengan nominal sama tidak selalu menghasilkan kWh yang sama.
Setidaknya terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
Golongan pelanggan menentukan tarif per kWh.
Daya listrik menentukan golongan yang digunakan.
PPJ daerah dapat berbeda.
Nominal token menentukan besarnya uang yang digunakan untuk membeli energi listrik.
Komponen transaksi yang berlaku dapat memengaruhi nilai akhir yang dikonversikan menjadi kWh.
Dengan demikian, tidak tepat jika seseorang mengatakan token Rp50.000 pasti menghasilkan jumlah kWh tertentu untuk seluruh pelanggan PLN.
Apa perbedaan tarif 900 VA subsidi dan non-subsidi?
Perbedaan ini cukup penting karena angka daya yang sama tidak selalu berarti tarif yang sama.
Dalam daftar tarif periode 7-14 September 2026, pelanggan rumah tangga 900 VA-RTM dikenai tarif Rp1.352 per kWh. Sementara itu, rumah tangga bersubsidi 900 VA memiliki tarif Rp605 per kWh.
Selisihnya mencapai Rp747 per kWh.
Artinya, pelanggan dengan label daya 900 VA harus mengetahui status golongannya sebelum melakukan perhitungan. Menggunakan tarif 900 VA subsidi untuk pelanggan 900 VA-RTM akan membuat estimasi biaya listrik menjadi terlalu rendah.
Kesalahan yang sering terjadi saat menghitung token PLN
Ada beberapa kesalahan sederhana yang dapat membuat hasil perhitungan meleset.
Pertama, menganggap nominal token sama dengan nilai listrik. Rp50.000 merupakan nominal pembelian, bukan berarti pelanggan mendapatkan energi senilai Rp50.000 tanpa komponen lain.
Kedua, menggunakan tarif yang salah. Pelanggan perlu melihat golongan pada meter atau informasi pelanggan sebelum melakukan perhitungan.
Ketiga, mengabaikan PPJ. Besaran PPJ dapat memengaruhi jumlah uang yang kemudian dikonversikan menjadi kWh.
Keempat, menggunakan contoh daerah lain sebagai patokan. PPJ di Jakarta tidak otomatis menjadi PPJ untuk seluruh daerah di Indonesia.
Kelima, menganggap harga token tetap menghasilkan kWh yang sama. Tarif berbeda antar-golongan membuat hasil konversinya juga berbeda.
Apa arti tarif listrik ini bagi pelanggan PLN?
Hal yang paling penting dari daftar tarif September 2026 bukan sekadar mengetahui angka Rp1.444,70 atau Rp1.699,53 per kWh. Pelanggan perlu memahami angka mana yang berlaku untuk dirinya.
Misalnya, dua rumah tangga membeli token dengan nominal sama. Jika satu pelanggan masuk golongan dengan tarif Rp1.444,70 per kWh dan pelanggan lainnya menggunakan tarif Rp1.699,53 per kWh, maka jumlah energi yang dapat diperoleh secara matematis akan berbeda.
Dengan kata lain, nominal uang yang sama tidak selalu memiliki daya beli listrik yang sama.
Bagi pelanggan prabayar, memahami hal ini juga membantu memperkirakan kapan token akan habis. Semakin besar konsumsi perangkat listrik dan semakin tinggi tarif golongan, semakin cepat energi yang tersimpan dalam meter digunakan.
Kesimpulan
Tarif listrik PLN 7-14 September 2026 tidak mengalami perubahan dan masih menggunakan tarif Triwulan III 2026. Pelanggan perlu melihat golongan masing-masing karena tarif per kWh berbeda antara rumah tangga bersubsidi, non-subsidi, bisnis, industri, pelayanan sosial, dan golongan lainnya.
Untuk pelanggan prabayar, nominal token juga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kWh. Tarif pelanggan dan PPJ daerah perlu diperhitungkan agar estimasi energi yang diperoleh lebih akurat.
Pantau terus perkembangan tarif listrik PLN dan kebijakan energi terbaru agar perhitungan biaya listrik rumah tangga maupun usaha tetap sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Jerman Siaga Tinggi, Dugaan Sabotase Jaringan Listrik Meluas usai Serangan Drone di Bandara Leipzig
Baca Juga: Infrastruktur Energi dan Data Center Makin Besar, Industri Butuh Sistem Kelistrikan Lebih Adaptif
FAQ
Berapa tarif listrik PLN 7-14 September 2026?
Tarif listrik PLN pada 7-14 September 2026 masih mengacu pada tarif Triwulan III 2026 atau periode Juli-September. Besarannya berbeda berdasarkan golongan pelanggan, dengan tarif rumah tangga mulai dari Rp415 per kWh untuk rumah tangga bersubsidi 450 VA hingga Rp1.699,53 per kWh untuk sejumlah golongan rumah tangga non-subsidi.
Apakah tarif listrik PLN September 2026 naik?
Tidak. Berdasarkan narasi yang menjadi acuan, pemerintah melalui Kementerian ESDM menetapkan tarif tenaga listrik Triwulan III 2026 tidak mengalami perubahan. Karena itu, tarif yang berlaku pada 7-14 September 2026 masih menggunakan ketentuan tarif periode Juli-September 2026.
Berapa tarif listrik PLN 900 VA per kWh?
Tarifnya bergantung pada golongan pelanggan. Rumah tangga 900 VA-RTM dikenai tarif Rp1.352 per kWh, sedangkan rumah tangga 900 VA bersubsidi memiliki tarif Rp605 per kWh. Karena itu, pelanggan perlu memastikan status golongannya sebelum menghitung biaya listrik.
Berapa tarif listrik PLN 1.300 VA dan 2.200 VA?
Tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga R-1/TR 1.300 VA dan 2.200 VA pada periode 7-14 September 2026 adalah sama, yakni Rp1.444,70 per kWh. Tarif tersebut merupakan bagian dari tarif Triwulan III 2026 yang masih berlaku pada September.
Token listrik Rp50.000 dapat berapa kWh?
Jumlah kWh dari token Rp50.000 bergantung pada golongan pelanggan dan PPJ daerah. Sebagai simulasi, pelanggan Jakarta dengan tarif Rp1.444,70 per kWh dan PPJ 2,4 persen memperoleh sekitar 33,77 kWh setelah nominal token dikurangi PPJ.
Mengapa jumlah kWh token listrik setiap pelanggan bisa berbeda?
Jumlah kWh berbeda karena pelanggan dapat memiliki tarif per kWh dan PPJ yang berbeda. Karena itu, nominal token yang sama, seperti Rp50.000, tidak otomatis menghasilkan jumlah kWh yang sama pada semua meteran PLN