Tak Cuma Perbaikan Gizi, Gerbang Tani Sebut MBG Bisa Jadi Mesin Ekonomi Desa Lewat Contract Farming
Senin, 27 Juli 2026 - 15:32 WIB
Jakarta, VIVA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki potensi raksasa yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Baca Juga
Maka dari itu, Ketua Umum Gerbang Tani PKB, Idham Arsyad menyodorkan gagasan strategis berupa skema contract farming (pertanian berbasis kontrak) antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan ekosistem pertanian lokal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ekosistem lokal yang dimaksud mencakup kelompok tani, peternak, pembudidaya ikan, hingga koperasi di sekitar area operasional SPPG.
Baca Juga
Idham meyakini, apabila skema ini direalisasikan, program MBG tidak hanya sukses memperbaiki gizi generasi muda, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.
“Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, petani mendapatkan kepastian pasar, desa mendapatkan perputaran ekonomi, dan negara semakin kuat kemandirian pangannya. Satu program strategis dapat menghasilkan beberapa manfaat sekaligus,” ujar Idham dalam keterangannya, Senin, 27 Juli 2026.
Baca Juga
Menurut analisis Gerbang Tani, operasional harian MBG membutuhkan pasokan logistik raksasa yang meliputi beras, telur, daging ayam, ikan, hingga sayur-mayur. Di sisi lain, penyakit menahun yang selalu mencekik petani Indonesia adalah ketidakpastian serapan pasar usai panen raya.
Idham menilai, program MBG adalah jawaban mutlak atas persoalan tersebut.
“Di sinilah peluang besarnya. Kebutuhan pangan MBG dapat dipertemukan dengan kebutuhan petani terhadap kepastian pasar. Negara tidak perlu menciptakan pasar baru karena pasarnya sudah tersedia melalui SPPG. Yang perlu kita bangun adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan SPPG dengan kapasitas produksi petani,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melalui contract farming, kesepakatan antara SPPG dan petani akan menjadi lebih profesional. Petani akan mendapatkan kepastian terkait jenis komoditas, volume kebutuhan, standar kualitas gizi, jadwal pengiriman, dan stabilitas harga. Di sisi lain, SPPG diuntungkan dengan pasokan bahan baku yang lebih segar lantaran jarak distribusi yang pendek. Rantai pasok yang ringkas ini otomatis akan menekan biaya logistik dan membuat uang negara berputar langsung di kantong rakyat pedesaan.
Tidak berhenti sampai di situ, kepastian pembeli (SPPG) ini juga akan mempermudah petani mengakses permodalan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pihak bank atau lembaga keuangan tentu akan lebih percaya menyalurkan pinjaman jika petani sudah mengantongi kontrak penjualan yang jelas.
Halaman Selanjutnya
“Selama ini produksi, pembiayaan, pendampingan, dan pasar sering berjalan sendiri-sendiri. Contract farming dapat menyatukannya dalam satu ekosistem: petani berproduksi karena pasarnya tersedia, pembiayaan masuk karena ada kepastian pembeli, dan SPPG mendapatkan kepastian pasokan,” kata Idham memaparkan.