Singapura (ANTARA) - ASEAN tetap menjadi pasar pertumbuhan utama bagi perusahaan-perusahaan Uni Eropa (UE), dengan 78 persen perwakilan bisnis yang disurvei memperkirakan perdagangan dan investasi di kawasan ini akan meningkat selama lima tahun ke depan, demikian pernyataan Dewan Bisnis UE-ASEAN yang berbasis di Singapura pada hari Selasa.

Proporsi tersebut meningkat dari 71 persen pada tahun 2025, sementara ASEAN tetap menjadi kawasan yang menawarkan peluang ekonomi terkuat untuk tahun keempat berturut-turut, menurut Survei Sentimen Bisnis ke-12 dewan tersebut.

Sekitar 78 persen responden berencana untuk memperluas operasi di setidaknya satu pasar ASEAN, dengan Vietnam dan Indonesia tetap menjadi dua tujuan utama.

Namun, ketidakpastian mengenai kebijakan tarif Amerika Serikat tetap menjadi kekhawatiran utama, dengan 81 persen mengatakan hal itu telah melemahkan kepercayaan bisnis di ASEAN.

Di antara perusahaan yang menata ulang rantai pasokan di tengah ketidakpastian perdagangan, 67 persen mempertimbangkan ASEAN sebagai basis alternatif atau tambahan.

Hambatan nontarif dan fragmentasi regulasi terus membatasi perdagangan dan investasi di ASEAN, dengan 73 persen responden menyebutkan hambatan yang berlebihan terhadap operasi rantai pasokan yang efisien.

"Kawasan tersebut memiliki fundamental yang kuat sehingga menjadikannya pusat rantai pasokan yang menarik, (didukung oleh) skala pasar yang besar, lokasi strategis, dan konektivitas regional. Mengatasi hambatan regulasi dan lintas perbatasan akan memperkuat integrasi pasar, memungkinkan bisnis untuk memperoleh nilai lebih besar dari skala gabungan ASEAN dan mendorong lebih banyak kegiatan komersial," kata Chris Humphrey, direktur eksekutif dewan itu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.