Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan strategi dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional menyusul turunnya kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Penurunan debit air tersebut terjadi imbas dari fenomena El Nino, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan dan Kalimantan.
Sebagai solusi, pemerintah akan memanfaatkan kombinasi operasional PLTA dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau energi angin.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, menyusutnya debit air sungai saat musim kemarau berdampak langsung pada penurunan produksi listrik dari PLTA.
Namun, cuaca panas akibat El Nino di saat yang bersamaan justru meningkatkan potensi dan intensitas angin secara signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan.
"Karena pada saat El Nino justru angin itu 24 jam bertiup. Nah, alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto, dua-duanya saya visit kemarin. Semua 24 jam full capacity. Nah, itu berarti kesimpulan sementara kita adalah pada saat panas ya, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin," ungkap Eniya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).
Dia mengungkapkan bahwa dua PLTB yang beroperasi di Sulawesi Selatan, yakni di Sidrap dan Jeneponto, justru beroperasi optimal pada kapasitas penuh selama 24 jam nonstop di tengah kondisi El Nino.
"Intinya kalau itu ya ukuran di PLN. Saya juga baru balik dari sana karena saya berkunjung. PLTA memang turun. Turun karena berkepanjangan ya. Sekarang sungai-sungai di Kalimantan kan juga surut. Nah, yang saya lihat justru memang adalah PLTB," katanya.
Sejatinya, karakteristik angin di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, di mana dalam rentang waktu empat hingga 4,5 bulan mulai dari Juni, Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober. Potensi angin mampu menghasilkan listrik selama 24 jam penuh.
Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum yang sangat ideal untuk mengisi penurunan kapasitas PLTA saat debit air surut.
"Karena pada saat El Nino justru angin itu 24 jam bertiup. Nah, alhamdulillah kita sudah punya dua pembangkit di Sulawesi Selatan, yaitu di Sidrap sama Jeneponto, dua-duanya saya visit kemarin. Semua 24 jam full capacity. Nah, itu berarti kesimpulan sementara kita adalah pada saat panas ya, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin," paparnya.
Meski pemetaan potensi PLTB dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) mencapai 11 Giga Watt (GW) di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, NTT, hingga Maluku, investasi di sektor energi angin tercatat belum bertambah dalam empat tahun terakhir.
Dengan begitu, untuk menarik minat investor, Kementerian ESDM kini tengah memproses revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022 terkait regulasi harga patokan energi terbarukan.
"Ini kita kan sedang revisi Perpres 112, harga. Nah, harga di situ nanti saya bahas lagi karena apa, El Nino ini justru malah potensi anginnya itu bisa full 24 jam. Kita itu punya kecepatan angin sampai 31 meter per second loh," tandasnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]