Medan (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) terus mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budi daya sebagai program strategis daerah.

"Perikanan tangkap dan budi daya ini untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat pesisir," kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Kamis.

Pengembangan kawasan unggulan tersebut, lanjut dia, akan dilakukan secara terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut juga telah bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara (USU) dalam menyusun rencana induk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.

"Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap, kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur. Tahun 2027, kita kembangkan di Kepulauan Nias,” ujar Jenny.

Pihaknya menjelaskan, penentuan lokasi kawasan unggulan perikanan.ini didasarkan pada potensi, dan produksi perikanan di masing-masing daerah.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut pada 2025, mencatat, bahwa total produksi perikanan di Sumatera Utara sebanyak 382.127,77 ton.

"Sementara target produksi perikanan tahun 2026 ini sebesar 383.036,91 ton, di antaranya hingga Triwulan II/2026 tercapai sebesar 200.931,45 ton," katanya.

Pihaknya juga menyebutkan, bahwa sejumlah daerah tercatat memiliki produksi perikanan yang tinggi, seperti Batu Bara, Asahan, Tanjung Balai, dan Tapanuli Tengah.

Data tersebut menjadi salah satu dasar memilih lokasi kawasan unggulan, dan menentukan lokasi sebagai kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dengan konsep dibangun dari hulu ke hilir.

Adapun komoditas yang menjadi potensi utama di wilayah itu antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.

"Dimana nelayan kita berikan alat tangkap, dan bantuan lain yang dibutuhkan. Nanti dibantu lagi hilirisasinya hingga pengolahannya,” kata Jenny.

Pewarta: Muhammad Said
Editor : Juraidi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.