Sumbawa (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadikan wisata hiu paus di Teluk Saleh sebagai bagian dari ekonomi biru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.
"Lautnya tetap hidup, masyarakatnya juga ikut hidup," kata Bupati Sumbawa H. Syarafuddin Jarot saat membuka rangkaian Festival Hiu Paus 2026 di Taman Hiu Paus, Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Sumbawa, Sabtu (19/9) malam sebagaimana keterangan di Sumbawa, Minggu.
Jarot mengatakan keberadaan wisata hiu paus tidak semata-mata menjadi daya tarik wisata, tetapi merupakan potensi kelautan yang dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pariwisata berbasis konservasi.
Menurut dia, pemanfaatan potensi tersebut harus dilakukan dengan menjaga keberlangsungan ekosistem sehingga aktivitas wisata tidak menghilangkan habitat dan keberadaan hiu paus di Teluk Saleh.
"Ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi aset ekonomi biru dan pariwisata kita," ujarnya.
Ia mengatakan pengembangan ekonomi biru berbasis hiu paus tersebut sejalan dengan rencana Pemerintah Kabupaten Sumbawa mendorong kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (SAMOTA) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Baca juga: ITDC memperkuat sistem keselamatan di kawasan Mandalika
“Potensinya lengkap, pariwisata, ekonomi biru, ekonomi hijau, ekonomi kreatif, perikanan,” katanya.
Jarot mengatakan kawasan SAMOTA memiliki potensi yang dapat dikembangkan secara terpadu dengan memadukan sektor kelautan, pariwisata, ekonomi kreatif, perikanan dan lingkungan.
Menurut dia, pengembangan kawasan tersebut perlu diarahkan agar investasi dan aktivitas ekonomi memberikan dampak langsung terhadap masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Ia menilai pengembangan berbagai sektor tersebut dapat memperluas basis ekonomi daerah sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat.
Festival Hiu Paus 2026 yang mengusung tema “Melestarikan Laut Menuju Pariwisata Berkelanjutan, Dari Teluk Saleh Untuk Dunia” dibuka Menteri Hukum Republik Indonesia Supratman Andi Agtas dengan pemukulan gong.
Festival berlangsung pada 19–26 September 2026 dengan rangkaian kegiatan yang memadukan pariwisata, budaya, olahraga, ekonomi kreatif dan konservasi lingkungan.
Ketua Yayasan Hiu Paus Musykil Hartsah mengatakan rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi konservasi bagi masyarakat dan wisatawan.
"Edukasi konservasi menjadi ruh festival,” katanya.
Festival juga menampilkan Tari Katir dari SMKN 1 Tarano, peluncuran lagu Hiu Paus oleh Karang Taruna, serta penampilan Sakeco cilik dari SDN Labuhan Jambu.
Teluk Saleh merupakan teluk terbesar di Pulau Sumbawa yang secara administratif berada di antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu. Kawasan perairan tersebut memiliki keanekaragaman hayati laut dan menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan untuk wisata bahari berbasis konservasi.
Festival Hiu Paus menjadi momentum memperkuat upaya pelestarian ekosistem laut sekaligus mendorong agar potensi sumber daya kelautan Teluk Saleh memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026