asiawebawards.com
  • 2026-07-21 16:34:43 +0000 UTC

    Jul 21, 2026

    Spanyol, Piala Dunia, dan pemain diaspora - ANTARA News Bangka Belitung

    Jakarta (ANTARA) - Piala Dunia 2026 usai sudah. Spanyol menjuarai turnamen ini dengan sempurna, bukan saja karena dominasi totalnya, tapi juga oleh permainan indah, dewasa, dan konsistensinya memainkan sepak bola menyerang yang bersih.

    Mereka mengulang sukses 2010 ketika pertama kali menjuarai Piala Dunia, dengan pelaku skuad yang sama-sama berata-rata usia muda.

    Kalau pada 2010 mereka sukses bersama skuad dengan rata-rata usia 24,5 tahun, maka tahun ini mereka berhasil bersama skuad berata-rata usia 26 tahun.

    Namun, ada sedikit perbedaan. Sepuluh tahun lalu, Spanyol tak membawa pemain berusia di bawah 21 tahun. Kini mereka membawa dua orang, yakni Lamine Yamal dan Pau Cubarsi yang sama-sama berusia 19 tahun.

    Yamal juga merepresentasikan keberagaman dan keinklusifan Spanyol, yang tengah menggejala dalam beberapa tahun terakhir.

    Jika skuad juara Piala Dunia 2010 hampir seluruhnya diisi pemain berkulit putih, skuad Piala Dunia 2026 tampil dengan komposisi yang jauh lebih beragam, diisi pemain dari berbagai latar belakang ras, termasuk para pemain diaspora.

    Yamal yang berayahkan orang Mesir dan beribukan Guinea Khatulistiwa, dan Nico Williams yang berorangtuakan orang Ghana, adalah generasi pemain kulit hitam Spanyol kedua yang tampil dalam putaran final Piala Dunia setelah Ansu Fati, Alejandro Balde, dan Williams sendiri.

    Sedangkan Aymeric Laporte masuk skuad sebagai diaspora yang lahir dan besar di Prancis.

    Ketiga pemain yang menjadi bagian instrumental dalam sukses Piala Dunia 2026 dan Piala Eropa 2024 itu, merepresentasikan Spanyol baru yang lebih inklusif.

    Dalam beberapa tahun terakhir Spanyol menjadi salah satu negara paling progresif di Eropa, berkat reformasi hukum menyeluruh, kampanye aksesibilitas dan penerimaan sosial yang agresif, yang semuanya sukses mengikis hambatan sosial dalam masyarakatnya.

    Berbeda dengan sejumlah negara Eropa yang cenderung anti-asing dan eksklusif, Spanyol justru kian merangkul segala warna sosial.

    Untuk itu, sukses Spanyol bisa dibaca sebagai ganjaran atas sikap mereka yang lebih terbuka terhadap keberagaman. Sebuah sikap yang justru menegaskan gagasan tentang Piala Dunia yang inklusif, seperti yang kerap didengungkan FIFA dan Gianni Infantino.

    Mereka meraih kesuksesan itu setelah menundukkan sebuah tim yang belakangan kerap dikaitkan dengan kecenderungan rasis.

    Yamal, Williams dan Laporte adalah juga simbol konsep kewarganegaraan yang lebih progresif nan luwes serta lebih merangkul.

    25 persen diaspora

    Laporte sendiri adalah satu dari sejumlah besar pemain diaspora dalam Piala Dunia 2026.

    Sekitar 25 persen dari total 1.248 pemain Piala Dunia 2026 adalah diaspora.

    Fakta ini mencerminkan pola migrasi yang lebih modern, pencarian bakat yang lebih terglobalisasi, dan sikap FIFA yang lebih fleksibel dalam mempertimbangkan asal usul pemain tim nasional.

    Hampir semua skuad Piala Dunia 2026 melibatkan pemain diaspora. Maroko bahkan pernah menurunkan skuad yang seluruhnya diaspora kala menghadapi Brasil dalam fase grup.

    Negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 dan satu-satunya tim non Eropa-Amerika Latin yang mencapai babak perempat final ini, diperkuat oleh 19 pemain diaspora.

    Situasi sama terjadi pada Prancis, yang memiliki 21 pemain dengan akar non Prancis, termasuk Michael Olise yang dilahirkan di Inggris.

    Jerman juga begitu. Pemain-pemain seperti Leroy Sane, Antonio Rudiger, dan Jamal Musiala, tidak dilahirkan di Jerman, tapi prestasi mereka membuat Jerman menihilkan asal usul mereka.

    Tanjung Verde dan Curacao, menjadi dua dari sejumlah debutan Piala Dunia, juga begitu. Pun demikian dengan Haiti. Hampir semua pemain tiga timnas ini adalah warga diaspora.

    Tak hanya asal usul pemain, Piala Dunia 2026 juga kian menolak pandangan bahwa timnas harus berasal dari klub dan liga lokal.

    Bahkan Arab Saudi, Qatar, Mesir, Afrika Selatan, dan Iran, yang hampir seluruhnya atau sebagian besar pemainnya merupakan produk liga lokal, tak mengagung-agungkan liga lokalnya.

    Tim-tim yang memiliki liga sepak bola terbaik di dunia sendiri tak mengharuskan skuadnya harus diisi produk-produk lokal.

    Dalam skuad Spanyol sendiri ada sembilan pemain yang bermain di klub asing. Di Inggris ada empat pemain, Jerman tujuh pemain, dan Prancis bahkan 17 pemain.

    Cape Verde, Curacao, Republik Demokrasi Kongo, Pantai Gading, Senegal dan Uruguay, malah tak memanggil satu pun pemain lokal.

    Legiun Eropa

    Uruguay yang juara dunia dua kali dan memiliki liga sepak bola bagus yang beberapa klubnya mendunia seperti Nacional dan Penarol, bahkan tak memaksa diri harus dari klub atau liga lokal, jika tidak didukung kualitas.

    Uruguay juga tidak anti dengan diaspora, walau mereka adalah eksportir pemain berkualitas tinggi ke liga-liga elite Eropa, Amerika Selatan, dan Amerika Utara.

    Buktinya ada dua pemain diaspora yang diikutkan pelatih Marcelo Bielso yang dia sendiri bukan orang Uruguay, melainkan orang Arfgentina.

    Kedua pemain itu adalah kiper Fernando Muslera yang dibesarkan di Argentina, dan gelandang Rodrigo Salazar yang dibesarkan di Spanyol.

    Sikap Uruguy itu sama dengan Belanda, yang juga gudang pemain bagus di Eropa. Tim Oranye melibatkan 15 pemain yang bermain di Liga Inggris, atau lebih dari separuh skuad.

    Walau hanya mengikutkan dua pemain Liga Belanda, tak ada orang Belanda yang mengeluh bahwa liga domestiknya telah dianaktirikan.

    Di sisi lain, kecuali Mesir dan Afrika Selatan, tim-tim yang dipenuhi pemain lokal malah gagal total. Contohnya, enam dari sembilan wakil Asia, yang gagal mencapai fase gugur. Korea Selatan menjadi kekecualian, karena mayoritas skuadnya berasal dari pemain-pemain yang bermain di luar negeri.

    Mesir dan Afrika Selatan memang pantas menjadi rujukan sukses untuk tim-tim dunia ketiga. Tapi siapa sih negara dunia ketiga yang menyamai performa liga domestik di kedua negara ini?

    Arab Saudi dan Qatar yang aktif mendatangkan pemain-pemain kelas dunia saja tak bisa menyamainya dan bahkan gagal menghasilkan tim yang berhasil di Piala Dunia.

    Sebaliknya, tim-tim yang diisi para pemain yang terbiasa bermain dalam kompetisi tinggi, yang bisa berarti akrab dengan kompetisi Eropa, adalah tim-tim yang lebih berhasil dalam Piala Dunia.

    Kenapa Eropa? Karena, walau Piala Dunia adalah turnamen global, warna Eropa dalam turnamen ini sangatlah kental.

    853 pemain atau 68.51 persen dari total 1.248 pemain Piala Dunia 2026, berkarier di Eropa. Dan ini tak mungkin tak mempengaruhi gaya bermain dalam Piala Dunia.

    Fakta ini juga bisa menggugah negara-negara yang dilimpahi pemain-pemain yang banyak bermain di Eropa atau diaspora yang bermain di Eropa, bahwa mereka memiliki bekal hebat dan bahkan kemewahan, yang bisa membuat mereka turut serta dan berkiprah banyak dalam Piala Dunia.

    Uploader : Bima Agustian

    COPYRIGHT © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-07-21 16:34:43 +0000 UTC