Kasus dugaan pemerkosaan massal yang terjadi di Cornell University, pada Oktober 2024 kembali jadi sorotan nasional di Amerika Serikat baru-baru ini. Terungkapnya isu kekerasan seksual ini tidak terlepas dari peran jurnalis mahasiswa Sophia Dasser dan Cereese Qusba yang mengangkat kembali kasus ini ke hadapan publik.
Kasus dugaan pemerkosaan ini bermula pada November 2024. Saat itu, mahasiswa Cornell University dikejutkan dengan adanya peringatan melalui e-mail "Crime ALERT: Sexual Assault," tulisan dalam e-mail tersebut, dikutip laman The New York Times.
E-mail tersebut merujuk pada seorang perempuan bernama Jane Doe yang melapor kepada polisi Cornell University bahwa ia telah diserang di sebuah rumah persaudaraan, Chi Phi. Kemudian, universitas membentuk satuan tugas pelecehan seksual. Satuan tugas ini merumuskan saran kebijakan tentang persetujuan (consent) dan proses pelaporan pelecehan. Namun, perhatian kampus kemudian banyak beralih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reporter The Cornell Daily Sun, Cereese Qusba, menjadi orang yang tetap mengusut kasus pelecehan yang dialami Jane Doe. Ia menghubungi Jane Doe, bahkan pengacaranya. Qusba juga mewawancarai administrator universitas untuk mempertanyakan langkah kampus dalam menangani mahasiswa yang diduga jadi pelaku pelecehan.
Sebelumnya Jane Doe telah melaporkan kasusnya kepada pihak kepolisian. Namun, Jaksa Wilayah Tompkins County Matthew Van Houten mengklaim bahwa dalam pernyataan Jane Doe aktivitas seksual tersebut berdasarkan sukarela.
Ketika Sophia Dasser menjadi pemimpin redaksi The Cornell Daily Sun baru pada awal 2026, ia menerima telepon dari Qusba yang sedang belajar di luar negeri di Sydney, Australia. Qusba berharap kasus pelecehan yang ia telusuri diangkat menjadi fokus koran The Cornell Daily Sun.
Pada September 2026, Jane Doe mengajukan gugatan terhadap universitasnya, serta fraternitas dan sororitas di kampusnya. Bersamaan dengan itu, Qusba juga telah siap untuk menerbitkan penyelidikannya yang telah digarap selama hampir dua tahun. Investigasi tersebut terbit dalam artikel berjudul Cornell, Chi Phi Sued by Victim of Alleged Gang Rape, Drugging in 2024 di laman The Sun.
Dalam artikel tersebut, dipaparkan secara rinci kronologi tuduhan Jane Doe pada malam ketika ia mengaku diserang, dari mulai acara sororitas di sebuah bar di Ithaca, sampai kejadian di rumah persaudaraan Chi Phi.
Selain itu, pemimpin redaksi The Cornell Daily Sun, Sophia Dasser, menginisiasi untuk memublikasikan nama-nama tersangka. Ini sebagai bentuk transparansi yang kurang ditunjukkan oleh pihak pimpinan universitas.
"Kita adalah murid. Kami berhak menuntut keselamatan dari administrator universitas kami, dan kami berhak menuntut hal-hal seperti laporan data anonim tentang hasil, sanksi, dan hukuman dari kasus-kasus yang dilaporkan," ujar Sophia, seperti dilansir laman Yahoo.
Ia juga menilai gugus tugas pelecehan seksual universitas tidak efektif sebagai langkah pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Bersama rekan-rekannya, Sophia Dasser mendesain halaman cetak khusus, kemudian menempatkan tulisan investigasi Qusba di bagian atas, serta daftar nama-nama ketujuh pelaku di bagian bawahnya. Ini menjadi momen nama pelaku dipublikasikan secara terbuka ke publik.
Momen penerbitan artikel itulah yang akhirnya menjadi titik balik kasus ini. Artikel tersebut mengubah isu internal kampus menjadi sorotan nasional yang mendorong pihak berwenang dan Cornell untuk kembali membuka penyelidikan yang sempat terhenti sejak 2024. Ketika akhirnya artikel kasus pelecehan ini terbit dan ramai jadi sorotan publik, Sophia Dasser dan Cereese Qusba mengaku tidak menduga liputan mereka viral.
(som/som)