Solusi Bangun Indonesia raih ASEAN Energy Awards 2026 berkat RDF
Sabtu, 10 Oktober 2026 20:20 WIB
Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Nguyen Viet Son menyerahkan penghargaan ASEAN Energy Awards 2026 kepada Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono di Manila, Filipina, Rabu (7/10/2026). ANTARA/HO-SBI
Pemanfaatan bahan bakar alternatif itu turut menggantikan sekitar 103 ribu ton batu bara
Cilacap (ANTARA) - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk melalui unit bisnis pengelolaan limbah Nathabumi meraih ASEAN Energy Awards 2026 kategori Emerging Low Carbon Technologies berkat inovasi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif (RDF) di Cilacap, Jawa Tengah.
Penghargaan tersebut diberikan atas inisiatif “Biodrying-based Refuse-Derived Fuel (RDF) for Cement Co-Processing in Cilacap Plant” dalam malam penganugerahan di Manila, Filipina, Rabu (7/10).
Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Nguyen Viet Son kepada Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono.
ASEAN Energy Awards merupakan penghargaan tingkat regional bagi proyek, organisasi, dan individu yang berkontribusi terhadap inovasi energi bersih dan transisi energi di kawasan ASEAN.
Penganugerahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Menteri Energi ASEAN ke-44 (AMEM) dan Forum Bisnis Energi ASEAN ke-26 yang dihadiri para menteri dan pejabat senior bidang energi, pimpinan industri, investor, akademisi, serta pemangku kepentingan sektor energi di kawasan.
Edi Sarwono mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam pengembangan fasilitas RDF pertama di Indonesia yang berlokasi di Cilacap.
“Pengakuan di tingkat ASEAN ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari solusi dekarbonisasi industri sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Implementasi RDF di Cilacap memanfaatkan teknologi biodrying untuk mengolah sampah perkotaan menjadi bahan bakar alternatif yang selanjutnya digunakan dalam proses produksi semen.
Sepanjang 2020–2025, fasilitas tersebut telah mengolah lebih dari 203 ribu ton sampah menjadi sekitar 93 ribu ton RDF.
Pemanfaatan bahan bakar alternatif itu turut menggantikan sekitar 103 ribu ton batu bara dan mengurangi lebih dari 24 ribu ton emisi karbon dioksida (CO) dari substitusi bahan bakar fosil.
Menurut Edi, perusahaan akan terus mendorong replikasi model bisnis pengelolaan RDF dan memperluas pemanfaatannya ke berbagai wilayah lain.
“Kami berharap pendekatan ini dapat memberikan dampak yang semakin luas bagi pengelolaan sampah dan transformasi industri yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Pengembangan RDF tersebut menjadi salah satu upaya mengintegrasikan pengelolaan sampah perkotaan dengan kebutuhan energi industri, sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular dan pengurangan emisi karbon di sektor semen.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.