asiawebawards.com
  • 2026-07-23 13:10:00 +0000 UTC

    Jul 23, 2026

    SKK Migas Pastikan Produksi Gas dari Proyek North Hub 72% untuk Domestik

    Warta Ekonomi, Kepulauan Riau -

    Pemerintah menetapkan 72% produksi gas dari Proyek Pengembangan North Hub Selat Makassar untuk memenuhi kebutuhan domestik, sementara 28% sisanya dialokasikan untuk pasar ekspor. Pasokan domestik tersebut akan diarahkan untuk menopang industri, kelistrikan, hingga pengembangan sektor hilir berbasis gas di Kalimantan Timur.

    Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengatakan alokasi domestik North Hub mencakup pasokan gas melalui pipa untuk industri sekitar Kalimantan serta LNG untuk kebutuhan PLN dan PGN.

    “Untuk alokasi, total untuk domestik nanti saya kasih semua datanya, itu 72%. Untuk gas pipanya itu 52% untuk kebutuhan industri di sekitar Kalimantan, termasuk kelistrikan, ada industri pupuk, ada petrokimia, ada amoniak di sana, ada metanol,” kata Djoko usai seremoni first steel cutting atau pemotongan baja perdana Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari (BHL) di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).

    Dari total alokasi domestik tersebut, sekitar 52% gas akan disalurkan melalui pipa untuk memenuhi kebutuhan industri di sekitar Kalimantan. Pasokan tersebut akan menopang sektor kelistrikan, industri pupuk, petrokimia, amoniak, hingga metanol.

    Sementara sekitar 12% dialokasikan dalam bentuk LNG yang dapat disalurkan untuk kebutuhan PLN dan PGN. Adapun sekitar 8% lainnya disiapkan sebagai cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan industri baru pada masa mendatang.

    Selain memastikan alokasi pasokan, pemerintah juga menyiapkan skema harga yang mempertimbangkan keekonomian industri pengguna. Djoko mengatakan harga LNG dari North Hub akan menggunakan formula sekitar 12,5% dikalikan dengan harga minyak dunia.

    “Nah harganya, alhamdulillah ini sudah sedikit di atas POV kita, kalau untuk LNG-nya itu sekitar rata-rata 12,5% dikali harga minyak dunia. Nah untuk gas pipanya juga demikian, itu disesuaikan dengan formula daripada produknya,” ujar Djoko.

    Untuk gas yang disalurkan melalui pipa, harga akan menggunakan mekanisme *floor price* yang dikombinasikan dengan harga produk industri pengguna. Artinya, harga gas akan mengikuti kemampuan sektor pengguna seperti pupuk, metanol, maupun amoniak.

    “Jadi ada floor price plus harga daripada produk. Kalau itu pupuk, itu harganya harga jual pupuk, kalau metanol harga jual metanol, kemudian kalau amoniak harga jual amoniak. Itu untuk gas pipanya, jadi ada floor price plus formula,” jelas Djoko.

    North Hub merupakan proyek pengembangan gas laut dalam (deepwater) yang mengintegrasikan Lapangan Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, Selat Makassar, lepas pantai Kalimantan Timur.

    Proyek yang dikembangkan Searah, perusahaan joint venture Eni dan Petronas, tersebut memiliki sumber daya gas sekitar 6,6 triliun kaki kubik (TCF) dan ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2028.

    Baca Juga: Masuki Fase Konstruksi, Proyek Gas North Hub Siap Beroperasi pada Kuartal IV-2028

    Baca Juga: Searah Mulai Bangun FPSO North Hub, Proyek Gas Laut Dalam Kaltim Ditargetkan Onstream 2028

    Untuk mendukung produksi tersebut, Searah mulai membangun FPSO Bahtera Haluan Lestari (BHL) yang ditandai dengan pelaksanaan first steel cuttingdi fasilitas Saipem Indonesia, Karimun, Kepulauan Riau.

    Djoko sebelumnya menyebut total investasi Proyek North Hub mencapai hampir US$15 miliar, dengan nilai pembangunan FPSO sekitar US$3 miliar.

    FPSO BHL akan menjadi fasilitas produksi utama dengan kapasitas pengolahan gas sebesar 1 BSCFD atau 1.000 MMSCFD, kapasitas pengolahan kondensat 80.000 barel per hari, serta kapasitas penyimpanan mencapai 1,4 juta barel.

    Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

    2026-07-23 13:10:00 +0000 UTC