Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia tengah menghadapi era suku bunga tinggi, setelah berbagai bank sentral negara maju menaikkan suku bunga acuannya pada September, salah satunya bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve atau The Fed.
Pasar keuangan dunia pun memperkirakan, The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada tahun ini, tepatnya pada Oktober 2026. Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 65% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober, berdasarkan CME FedWatch.
Lantas, apakah Bank Indonesia (BI) akan ikut mengerek satu kali lagi suku bunganya setelah beruntun pada Mei-Juni 2026?
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia sangat tergantung pada perkembangan data-data ekonomi (data dependent) karenanya, ia tak bisa mengungkapkan arah kebijakan moneter sebelum rapat dewan gubernur digelar.
"Jadi suku bunga kebijakan itu data dependent. Enggak ada yang bisa bilang sekarang apa yang akan dilakukan oleh BI dalam RDG bulan depan, RDG November atau RDG Desember," kata Erwin Gunawan Hutapea di Kantor Pusat BI, Jl Thamrin, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Meskipun demikian, Erwin memastikan di balik setiap keputusan suku bunga dilakukan assesmen dan memandang outlook ekonomi Indonesia.
"Apapun keputusan yang diambil oleh BI semuanya sifatnya data dependent dan mudah-mudahan kita menjadi bagian dari respons terbaik yang bisa diberikan Indonesia untuk tetap menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi," tegasnya.
Bank Indonesia sendiri mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% pada September 2026. Keputusan ini menjadikan tren suku bunga acuan BI Rate ditahan selama empat bulan beruntun sejak rapat dewan gubernur pada Juni 2026.
Bank Indonesia menahan suku bunga di tengah tren suku bunga tinggi untuk waktu yang lama (higher for longer) setelah suku bunga bank sentral di berbagai negara naik. Terutama bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang naik 25 basis poin pada September dan diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunganya sekali di tiga bulan terakhir 2026.
Di sisi lain, ancaman kenaikan harga-harga makanan karena fenomena super El Nino juga mengintai dan perlu direspon secara akurat oleh Bank Indonesia ke depan.
Dalam kondisi tersebut, para ekonom memproyeksikan BI menaikkan kembali suku bunga acuannya atau BI Rate.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan BI berpeluang menaikkan kembali suku bunga acuannya di sisa 2026. Bahkan, ia pun merevisi posisi BI Rate pada akhir 2026 bisa mencapai 6%.
"Peluang BI menaikkan kembali BI Rate pada kuartal IV-2026 memang meningkat. Kami merevisi perkiraan dengan memasukkan kenaikan tambahan 25 basis poin menjadi 6,00%, terutama karena setelah kenaikan suku bunga The Fed pada September," kata Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (29/9/2026).
Sementara itu, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan peluang kenaikan BI Rate lebih lanjut bisa terjadi jika depresiasi rupiah berlangsung lebih cepat.
"Peluang kenaikan BI-Rate pada Oktober-November meningkat apabila depresiasi berlangsung cepat, arus modal keluar membesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu," kata Rizal.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]