
Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Selama beberapa generasi, ada sebuah keyakinan yang hidup hampir tanpa perlu dijelaskan di banyak keluarga Indonesia: sekolahkan anak setinggi mungkin, karena pendidikan akan membawanya menuju kehidupan yang lebih baik.
Untuk keyakinan itu, orang tua bekerja lebih keras. Ada yang menjual sawah, mengambil pinjaman, mengurangi kebutuhan rumah tangga, atau merelakan anaknya pergi jauh dari kampung halaman.
Di dinding rumah kemudian terpajang sebuah ijazah-bukan sekadar bukti seseorang telah menyelesaikan pendidikan, melainkan tanda bahwa satu generasi berharap generasi berikutnya dapat hidup lebih baik daripada mereka.
Itulah kontrak sosial pendidikan yang kita bangun selama puluhan tahun.
Tetapi hari-hari ini, kontrak tersebut sedang menghadapi pertanyaan baru.
Ketika jumlah pengangguran berpendidikan tinggi tetap besar, persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa lapangan pekerjaan kurang tersedia. Data justru memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks.
Pada Februari 2026, angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang. Sebanyak 147,67 juta orang bekerja-bertambah hampir 1,9 juta dibandingkan setahun sebelumnya-sementara Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 4,68 persen. Artinya, ekonomi menciptakan pekerjaan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: pekerjaan seperti apa yang sedang tumbuh, manusia seperti apa yang sedang kita hasilkan, dan apakah keduanya sedang bergerak menuju masa depan yang sama?
Di sinilah pengangguran sarjana sebaiknya tidak dibaca sebagai vonis bahwa pendidikan telah gagal. Ia lebih tepat dibaca sebagai gejala dari perubahan hubungan antara pendidikan, teknologi, produksi, dan pekerjaan.
Pada masa yang panjang dalam sejarah manusia, tubuh merupakan modal produksi utama. Masyarakat agraris membutuhkan tenaga untuk mengolah tanah.
Revolusi Industri mempertemukan manusia dengan mesin. Abad berikutnya melahirkan komputer dan ekonomi pengetahuan. Pendidikan tinggi kemudian menjadi salah satu jalan utama memasuki kelas menengah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.