Ukuran keberhasilan Cak dan Ning 2026 bukan seberapa lama publik mengingat malam penobatan mereka, melainkan seberapa jauh masyarakat merasakan manfaat dari kerja mereka.
Surabaya (ANTARA) - Grand final Cak dan Ning Surabaya 2026 di Balai Kota Surabaya, Sabtu (10/10), bukan sekadar panggung untuk menentukan siapa yang paling layak mengenakan selempang duta wisata.
Di hadapan para penilai, para finalis membawa hal yang lebih penting daripada sekadar penampilan, yaitu gagasan tentang masa depan kota. Gagasan yang ditawarkan pun beragam, mulai dari pelestarian cagar budaya dan destinasi wisata, digitalisasi, pengelolaan sampah, penanganan tengkes (stunting), hingga penguatan nilai gotong royong.
Sebanyak 15 finalis beradu gagasan dalam ajang bertema Adhigana Manggala, yang mengusung semangat berani berkarya dan bersama berdaya. Cak Aldo dari Kecamatan Tegalsari dan Ning Rara dari Kecamatan Gubeng terpilih sebagai Cak dan Ning Surabaya 2026.
Keduanya kini memikul tanggung jawab untuk membuktikan bahwa gelar duta wisata dapat menjadi pintu masuk bagi kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
Gagasan yang beragam tersebut memperlihatkan potensi anak muda Surabaya untuk terlibat dalam persoalan publik. Tantangannya adalah memastikan ide yang disampaikan di atas panggung tidak berhenti sebagai jawaban yang mengesankan dewan juri, tetapi berkembang menjadi program yang menjawab kebutuhan warga.
Di sinilah relevansi Cak dan Ning melampaui urusan pariwisata. Ajang tersebut dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran kepemimpinan generasi muda, terutama ketika Indonesia sedang menyiapkan sumber daya manusia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Keberhasilannya tidak cukup diukur dari kualitas penyelenggaraan atau popularitas pemenang, melainkan dari perubahan yang mampu mereka hasilkan setelah sorotan lampu meredup.
Baca juga: Wali Kota: Cak dan Ning miliki peran kenalkan seni budaya Surabaya
Bonus demografi
Indonesia memiliki modal demografis yang besar untuk membangun kepemimpinan masa depan.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun pada 2025 diperkirakan mencapai 66,83 juta jiwa. Besarnya jumlah tersebut merupakan peluang, tetapi tidak otomatis menjadikan Indonesia unggul dalam persaingan global.
Bappenas menempatkan peningkatan kualitas pemuda sebagai salah satu faktor penting untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan, kesehatan, dan produktivitas perlu berjalan beriringan agar generasi muda mampu menjadi penggerak pembangunan, bukan sekadar kelompok usia produktif dalam statistik kependudukan.
Namun, kualitas kepemimpinan tidak tumbuh hanya melalui pendidikan formal atau kemampuan berbicara di hadapan publik. Kepemimpinan juga terbentuk melalui pengalaman menyelesaikan persoalan, bekerja bersama orang yang berbeda pandangan, memahami kebutuhan kelompok rentan, serta mempertanggungjawabkan keputusan.
Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) yang dipublikasikan Kemenpora menunjukkan indeks tersebut meningkat dari 48,67 pada 2015 menjadi 58,33 pada 2024. Meski melampaui target akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024 sebesar 57,67, rata-rata kenaikannya dalam satu dekade tidak lebih dari satu poin per tahun.
Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) yang dipublikasikan Kemenpora menunjukkan indeks tersebut meningkat dari 62,88 pada 2024 menjadi 65,78 pada 2025, melampaui target nasional sebesar 65,16. Namun, partisipasi dan kepemimpinan masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan pemuda.
Kemenpora juga mencakup partisipasi dan kepemimpinan sebagai salah satu domain penilaian pembangunan pemuda.
Angka tersebut mengingatkan bahwa pembangunan generasi muda merupakan pekerjaan jangka panjang. Prestasi individu patut diapresiasi, tetapi peningkatan kualitas pemuda secara luas memerlukan akses terhadap pendidikan, pelatihan, pekerjaan layak, kesempatan berorganisasi, dan ruang untuk memengaruhi pengambilan keputusan.
Dalam konteks itu, Cak dan Ning Surabaya mempunyai posisi yang menarik. Mereka dapat menjadi penghubung antara pengetahuan generasi muda dan kebutuhan masyarakat. Mereka juga memiliki peluang memperkenalkan sejarah, budaya, serta potensi ekonomi Surabaya melalui pendekatan komunikasi yang dekat dengan generasi sebaya.
Baca juga: Wamendagri: Generasi muda berperan tentukan masa depan Indonesia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.