PT Pupuk Indonesia melakukan diversifikasi pasokan bahan baku dan energi imbas penutupan jalur transportasi di Selat Hormuz, Timur Tengah. Jalur perdagangan yang menghubungkan Teluk Persia dan pasar global ini telah tertutup sejak perang Iran-Amerika Serikat (AS) pecah pada Februari lalu.

Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia Pupuk Indonesia Erlangga Rismantojo mengatakan, pada dasarnya tidak semua bahan baku pupuk bisa dipenuhi dari domestik, masih ada sekitar 30% yang diimpor. Dari jumlah tersebut 5% pasokan impor terdampak penutupan Selat Hormuz.

“Jadi sebetulnya secara konflik memang itu memberikan dampak bagi kami, tapi dari suplai bahan baku impor tidak terlalu signifikan. Kendati demikian, untuk menjaga keamanan pasokan bahan baku kami harus bekerja sama dengan supplier bahan baku untuk fosfat, kalium, dan sulfur,” kata Erlangga dalam sesi diskusi panel ‘Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness’ di  Katadata SAFE 2026, di Jakarta, Kamis (17/9).

Pupuk Indonesia mendiversifikasi bahan baku pupuk dan pasokan energi dari berbagai negara, seperti Kanada, Aljazair, Belarusia, dan lain sebagainya.

Dia menyebut dengan adanya dinamika global ini menunjukkan bahwa perusahaan harus segera beradaptasi, untuk bisa menjaga ketahanan pangan dan energi.

Selain diversifikasi sumber, perusahaan juga melakukan integrasi vertikal melalui penguasaan tambang bahan baku di berbagai lokasi. Hal ini dilakukan sebagai mitigasi gangguan pasokan karena dinamika global.

Di samping itu, Erlangga menyampaikan perusahaan juga harus melakukan efisiensi energi di bidang produksi. Hal ini dilakukan utamanya ketika terjadi kenaikan biaya sehingga diharuskan mengambil keputusan untuk revitalisasi, repowering.

Banjir Permintaan Ekspor

Meski sedikit terkendala imbas kondisi geopolitik dunia, PT Pupuk Indonesia memiliki kemampuan mengekspor sekitar 1,5 juta ton pupuk urea untuk negara-negara sahabat yang terdampak perang Timur Tengah. Selama ini, kawasan Timur Tengah merupakan pemasok 30% kebutuhan pupuk urea dunia. 

SVP Corporate Secretary Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menjelaskan target produksi pupuk urea tahun ini mencapai 7,8 juta ton, sementara jumlah kebutuhan pupuk subsidi hanya mencapai 6,3 juta ton sehingga ada 1,5 juta ton yang bisa diekspor. Namun, dia mengatakan keputusan ekspor tergantung pemerintah.

“Bisa kami pasok untuk membantu negara sahabat, namun ini bisa terlaksana melalui jalur kesepakatan antar-pemerintah bukan secara bisnis ke bisnis,” kata dia dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4).

Yehezkiel mengatakan ada beberapa negara yang meminta pasokan pupuk urea dari Indonesia, seperti Australia, India, dan Filipina. “Satu setengah juta ton nanti tergantung arahan pemerintah mau didistribusikan ke negara mana,” ucapnya. 

Menurutnya, permintaan pupuk ini terbilang mendesak karena akses Selat Hormuz masih terhambat. Yehezkiel mengatakan Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk urea terbesar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Amerika Utara. 

Stok pupuk urea Indonesia diklaim aman karena bahan bakunya yakni gas alam bisa dipenuhi dari dalam negeri. “Sehingga pernyataan Indonesia itu aman dari keterbatasan pasokan pupuk, itu benar adanya,” ujarnya.