Sektor Keuangan RI Terjaga, Bos OJK Tetap Waspadai Beragam Potensi Imbas Ketidakpastian Global
Selasa, 4 Agustus 2026 - 16:55 WIB
Jakarta, VIVA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi alias Kiki memastikan, sektor jasa keuangan nasional masih tetap terjaga, di tengah situasi ketidakpastian global yang dipicu ekskalasi geopolitik hingga kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga
Namun, berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada 29 Juli 2026, Kiki menegaskan bahwa OJK akan tetap mewaspadai berbagai potensi di balik kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, imbas gagalnya gencatan senjata antara Iran-AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Meski demikian, RDKB OJK pada 29 Juli 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan masih tetap terjaga, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global," kata Kiki dalam telekonferensi pers RDKB OJK, Selasa, 4 Agustus 2026.
Baca Juga
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Photo :
- Antara.
Kewaspadaan itu diakui Kiki disebabkan karena ekskalasi geopolitik Timur Tengah, yang turut menyebabkan lonjakan harga energi dunia serta meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global.
Baca Juga
Sementara Dana Moneter Internasional alias IMF sendiri, telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi sekitar 3 persen. Hal itu akibat dari dampak berkepanjangan dari ketidakpastian global tersebut.
Meski demikian, Kiki meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi global masih berpotensi untuk tumbuh, ditopang oleh pesatnya investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Di sisi lain, AS telah mulai menerapkan kebijakan tarif baru terhadap sekitar 60 negara mitra dagang, sebagai pengganti kebijakan tarif sementara yang berakhir beberapa waktu lalu.
Hal itu pun diakui Kiki telah menjadi salah satu aspek yang berpotensi menambah tekanan terhadap sektor perdagangan internasional. Terlebih, faktor melonjaknya harga energi global juga turut mendongkrak premi risiko, yang diperkirakan masih akan berlanjut dengan tensi geopolitik yang belum jelas kapan akan berakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu, lanjut Kiki, sejumlah indikator ekonomi global yang masih melambat juga masih terus dipantau oleh pihaknya. Hal itu termasuk soal pergerakan yang terbatas pada sektor manufaktur di berbagai negara.
Kemudian kondisi inflasi di China juga terpantau mulai mereda, meskipun pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu tercatat menjadi yang terendah dalam beberapa periode terakhir. Hal itu masih ditambah dengan melemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, sehingga ekspor masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi China.
Halaman Selanjutnya
Sementara di kawasan Eropa dan Inggris, Kiki melaporkan bahwa tren inflasi juga terus menurun. Hal itu selaras dengan bervariasinya pergerakan pasar keuangan global, dengan arus keluar dana investor asing (non-resident outflow) yang kembali terjadi. Meskipun, Kiki mengakui bahwa intensitasnya lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.