Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menerapkan sistem prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara bertahap. Penerapan sistem ini disesuaikan dengan kesiapan dapur dan sekolah, serta kebutuhan siswa. Sebelum diterapkan, sistem prasmanan akan diuji coba dan dievaluasi untuk memastikan pelaksanaannya berjalan baik dan sesuai standar.

Baca Juga

Kepala BGN, Sudaryono mengatakan bahwa penerapan sistem prasmanan membutuhkan persiapan yang matang dan keterlibatan semua pihak. Oleh karena itu, sekolah yang ingin menerapkan sistem ini harus mendaftar dan mengikuti pelatihan terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Prasmanan ini bukan berarti bisa diterapkan begitu saja. Dapurnya harus dilatih, sekolahnya juga harus dilatih, dan kami harus memastikan semuanya siap. Setelah itu, baru bisa diterapkan secara bertahap dengan standar yang sama," kata Sudaryono Jumat (16/10/2026).

Baca Juga

Menurutnya, sistem prasmanan memiliki potensi untuk meningkatkan efektivitas pelayanan MBG, termasuk dalam menyesuaikan porsi makanan dengan kebutuhan siswa. Melalui mekanisme ini, setiap siswa tetap memperoleh porsi awal sesuai takaran gizi yang telah ditetapkan, sementara siswa yang masih membutuhkan tambahan makanan dapat mengambil kembali sesuai ketersediaan.

Kepala BGN menegaskan, penyesuaian porsi tersebut tidak menghilangkan kewajiban pemenuhan standar gizi. Takaran setiap komponen makanan, mulai dari nasi hingga sumber protein, tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

Baca Juga

"Porsi awal tetap harus ditakar sesuai standar. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, disiapkan pula makanan tambahan untuk siswa yang masih membutuhkan. Dengan begitu, kebutuhan makan siswa dapat dilayani dengan lebih baik," jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman awal penerapan sistem prasmanan menunjukkan respons yang positif. Meski demikian, BGN tetap melakukan evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari kebutuhan tenaga pendamping hingga penyesuaian pelayanan berdasarkan jenjang kelas dan karakteristik siswa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, kebutuhan siswa sekolah dasar kelas satu tentu berbeda dengan siswa kelas empat. Oleh karena itu, penerapan sistem prasmanan perlu mempertimbangkan kemampuan anak dalam mengambil makanan, kebutuhan pendampingan, serta kesiapan guru dan tenaga sekolah.

Selain kesiapan dapur, keterlibatan pihak sekolah juga menjadi faktor penting. Penerapan sistem prasmanan memerlukan dukungan kepala sekolah, guru, dan pemahaman orang tua mengenai aspek edukasi yang menyertainya. Apabila sekolah belum siap menerapkan sistem tersebut, pelayanan MBG tetap dapat dilaksanakan melalui mekanisme penyajian yang telah berjalan.

Halaman Selanjutnya

"Setiap sekolah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda karena itu, kami ingin memastikan sekolah yang menerapkan prasmanan benar-benar siap. Standarnya harus sama, mulai dari kesiapan pelaksana hingga peralatan yang digunakan, agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru," ungkap Kepala BGN.