asiawebawards.com
  • 2026-08-14 00:32:06 +0000 UTC

    Aug 14, 2026

    Sekolah kedua di balik kota besar

    Krisna bukan sekadar program untuk mengembalikan warga ke bangku belajar. Ia adalah kesempatan kedua yang diberikan negara kepada mereka yang pernah kehilangan kesempatan pertama.

    Surabaya (ANTARA) - Di kota dengan gedung sekolah yang berdiri hampir di setiap kawasan, masih ada warga yang harus mencari jalan lain untuk mendapatkan ijazah. Bukan karena sekolah tidak tersedia, melainkan karena hidup pernah membuat mereka keluar dari ruang kelas.

    Ada yang berhenti sekolah karena harus bekerja. Ada yang terputus karena persoalan keluarga, ekonomi, kesehatan, atau keadaan lain yang membuat pendidikan formal tidak lagi mungkin dijalani. Ada pula yang bertahun-tahun kemudian baru menyadari bahwa selembar ijazah dapat menentukan begitu banyak pintu kehidupan.

    Di titik itulah pendidikan kesetaraan memperoleh makna yang lebih besar daripada sekadar kejar paket.

    Pemerintah Kota Surabaya kini menyediakan 26 lokasi belajar pendidikan kesetaraan, terdiri atas sembilan lokasi Program Krisna atau Kesetaraan Hadir untuk Masyarakat dan 17 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Lokasinya memanfaatkan ruang yang dekat dengan kehidupan warga, seperti aula kecamatan dan Balai RW.

    Pilihan tersebut penting. Pendidikan tidak selalu harus menunggu warga datang ke gedung sekolah. Untuk sebagian masyarakat, justru layanan pendidikanlah yang harus bergerak mendekati tempat mereka hidup dan bekerja.

    Krisna juga menawarkan Paket A, B, dan C yang setara dengan jenjang SD, SMP, dan SMA. Fleksibilitas waktu menjadi salah satu kekuatan karena warga belajar tidak selalu berada dalam situasi yang memungkinkan mengikuti jadwal sekolah formal.

    Kebijakan ini sejalan dengan prinsip bahwa pendidikan merupakan hak seluruh warga negara. Namun, keberhasilan pendidikan kesetaraan tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya titik belajar yang dibuka atau jumlah warga yang mendapatkan ijazah.

    Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah warga yang pernah keluar dari sistem pendidikan benar-benar dapat kembali, bertahan, menyelesaikan pembelajaran, lalu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk memperbaiki kehidupan.

    Di situlah ukuran keberhasilan mulai menjadi lebih rumit.

    Baca juga: Kemiskinan berhenti di sekolah

    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

    2026-08-14 00:32:06 +0000 UTC