Islamabad (ANTARA) - Sekitar 900 wisatawan asing masih belum ditemukan di Nepal dan wilayah Tibet, China, Kamis, setelah banjir bandang dan tanah longsor dahsyat menewaskan sedikitnya 180 orang, menurut data resmi.

Dewan Pariwisata Nepal mencatat sebanyak 644 wisatawan asing dan lokal hilang di sisi perbatasan Nepal.

Mereka terdiri atas 178 warga India, 65 warga Amerika Serikat, 53 warga Ukraina, 51 warga Malaysia, 35 warga Australia, 33 warga Inggris, 25 warga Kanada, sembilan warga Singapura, dan delapan warga Jerman.

Wisatawan lain yang juga masih hilang berasal dari Prancis, Hungaria, Swiss, Italia, Irlandia, Israel, Jepang, Kazakhstan, Portugal, Rusia, dan sejumlah negara lainnya.

Dewan Pariwisata Nepal menyatakan sebanyak 127 wisatawan Nepal juga masih belum diketahui keberadaannya.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan 100 warga negara China hilang di sisi perbatasan Nepal akibat banjir bandang tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Lin Jian menyebutkan 260 warga negara asing masih belum diketahui keberadaannya di Tibet, yang disebut Beijing sebagai Daerah Otonom Xizang. Data yang disampaikan Pemerintah Nepal tidak mencakup warga negara China yang hilang tersebut.

Baca juga: Banjir bandang Nepal tewaskan 289 orang, 558 masih hilang

Berdasarkan citra satelit, banjir kemungkinan dipicu oleh bongkahan es berukuran besar yang terlepas dari gletser Himalaya sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi.

Otoritas Nepal memastikan 177 orang meninggal dunia dan mencatat 826 lainnya masih belum ditemukan.

Sementara itu, otoritas China mengatakan tiga orang meninggal dunia dan 558 orang masih hilang, termasuk warga negara asing.

Sumber: Anadolu

Pewarta: Primayanti
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.