AKURAT.CO Duka kembali menyelimuti Jalur Gaza ketika sekitar 100 jenazah warga Palestina akhirnya dimakamkan secara massal pada Sabtu, setelah lebih dari dua tahun tertimbun reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel.

Prosesi perpisahan berlangsung di dekat Masjid Imam Al-Shafi'i, kawasan Zeitoun, Gaza City. Puluhan jenazah dan potongan jasad dibungkus bendera Palestina, sementara keluarga menyalakan lilin, meletakkan bunga, serta mengenang nama-nama korban yang terdiri dari anak-anak, perempuan, laki-laki, hingga lansia.

Jenazah tersebut baru berhasil dievakuasi dalam beberapa hari terakhir oleh tim Pertahanan Sipil Gaza dari rumah-rumah milik keluarga Rahim, Balawi, Malaka, dan Qanbour yang runtuh akibat pemboman selama perang di Gaza.

Evakuasi Terkendala Alat Berat

Pertahanan Sipil Gaza menyebut operasi pencarian masih menghadapi kendala besar karena minimnya alat berat. Tim penyelamat hanya memiliki beberapa ekskavator dengan kondisi usang, sementara masuknya mesin tambahan disebut terhambat oleh pembatasan dari Israel.

Operasi tahap kedua kini mencakup 147 bangunan yang hancur di Gaza City serta wilayah utara dan tengah Gaza. Otoritas memperkirakan sekitar 1.072 jenazah masih berada di bawah reruntuhan.

Sebelumnya, pada tahap pertama yang dimulai November 2025, tim penyelamat berhasil menemukan sekitar 333 jenazah dari 54 bangunan yang runtuh.

"Seluruh Hidup Saya Hilang"

Salah satu pelayat, Maryam Hassan Al-Balawi, berdiri di samping jenazah suami dan anak-anaknya yang baru ditemukan setelah menunggu lebih dari dua tahun. Kini ia hanya hidup bersama putri semata wayangnya, Malak, satu-satunya anggota keluarga yang selamat.

"Suami dan anak-anak saya telah meninggal. Saya tidak punya siapa pun lagi selain Malak," ujarnya.

Balawi mengatakan putrinya masih menangis setiap hari karena kehilangan ayah serta saudara-saudaranya. Ia juga mengenang permintaan terakhir sang suami yang ingin dikafani dan dimakamkan oleh tangannya sendiri, sebuah wasiat yang baru bisa dipenuhi setelah jasadnya ditemukan.

Satu-Satunya Korban Selamat

Di lokasi yang sama, Jadallah Rahim mengantar pemakaman 32 anggota keluarganya yang tewas ketika rumah mereka dibom pada 19 Februari 2024.

Menurutnya, lebih dari 15 korban adalah anak-anak dan sekitar 10 lainnya perempuan. Dari 33 orang yang berada di dalam rumah saat serangan terjadi, hanya seorang anak perempuan yang berhasil selamat.

"Mereka bukan sekadar angka. Lihat nama-nama mereka, ada anak-anak, perempuan, laki-laki, dan orang tua," kata Rahim.

Ia mengaku proses evakuasi baru dapat dilakukan setelah tim penyelamat menggali reruntuhan selama beberapa hari dengan peralatan yang sangat terbatas.

Luka Lama Kembali Terbuka

Bagi keluarga korban, ditemukannya jenazah bukan menghadirkan kegembiraan, melainkan membuka kembali luka yang selama ini terpendam.

Rahim mengatakan kesedihan yang sempat tertahan kini kembali muncul ketika akhirnya dapat melihat jasad orang-orang yang dicintainya.

Pada Minggu pagi, seluruh jenazah dijadwalkan diberangkatkan dalam prosesi pemakaman massal di Gaza City.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak perang meletus pada Oktober 2023, sedikitnya 73.651 warga Palestina dilaporkan tewas dan 174.575 orang mengalami luka-luka. Namun bagi keluarga di Zeitoun, angka tersebut hanyalah statistik di balik kisah kehilangan yang baru benar-benar berakhir ketika orang-orang tercinta akhirnya dapat dimakamkan dengan layak.

Sumber: TRTWorld