Sejumlah kondisi yang perlu tindakan bantuan hidup dasar
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid menyampaikan sejumlah kondisi yang memerlukan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan upaya pertolongan pertama yang dilakukan pada korban henti jantung atau henti napas untuk mempertahankan kehidupannya.
“Mereka yang membutuhkan bantuan hidup dasar umumnya adalah mereka yang kemudian didapatkan kondisi-kondisi tertentu,” kata Muhadi, ketika ditemui ANTARA usai acara EIMED untuk komunitas di Jakarta, pada Sabtu.
Muhadi mengatakan kondisi yang dapat diberikan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti seseorang tiba-tiba ditemukan tidak sadar atau yang sebelumnya sadar kemudian kehilangan kesadaran.
Baca juga: Kuasai bantuan hidup dasar demi siap diri saat keadaan darurat
Selain itu, BHD juga dilakukan apabila korban tidak bernapas, yang dapat dikenali dari tidak adanya gerakan dada.
“Kita secara mudah melihat orang bernapas itu kan dengan melihat gerakan dada. Ketika melihat seseorang tidak sadar, gerakan dadanya tidak ada, oh ini berarti tidak ada napas, berhenti napasnya,” tutur Muhadi.
Muhadi mengatakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) berbeda dengan pertolongan pertama pada kecelakaan. Menurutnya, korban kecelakaan belum tentu mengalami penurunan kesadaran karena bisa saja hanya mengalami luka.
“Karena orang kecelakaan belum tentu enggak sadar gitu, dia bisa saja ada luka dan segala macam. Nah itu ada topik yang berbeda, kira-kira begitu,” ujar dia.
Baca juga: Urgensi pelatihan BHD untuk pertolongan pertama pada serangan jantung
Dalam pemaparan pelatihan BHD EIMED PAPDI bersama anggota komunitas SEHATARA (komunitas teman Tuli) di Jakarta, pada Sabtu, Dokter spesialis penyakit dalam dr. Anastasia Asylia Dinakrisma, Sp.PD, K-Ger, FINASIM mengatakan bahwa jantung berhenti karena segala macam seperti serangan jantung, penyakit tertentu hingga gangguan pernapasan.
Kondisi tersebut, lanjut Anastasia, membuat orang yang mengalaminya tidak sadarkan diri. Selama jantung berhenti, maka tidak akan ada darah yang dipompa ke otak.
Oleh karena itu, ketika melihat seseorang henti jantung membutuhkan dilakukan pompa jantungnya untuk mengalirkan darah ke otak. Dalam hal ini, tindakan bantuan hidup dasar hingga tenaga medis datang dan memberikan penanganan lanjutan.
“Karena cuma ini, empat menit sudah mulai rusak, jadi sudah mulai dia tidak ada aliran darah sama sekali. Jadi penting sekali kita melakukan bantuan hidup dasar. Kita harus tolong orang, supaya otaknya tidak mati,” kata Anastasia, dokter lulusan Universitas Indonesia.
Baca juga: Pelatihan bantuan dasar hidup perlu bagi pemandu gunung
Adapun langkah-langkah tindakan BHD, kata Anastasia, seperti ketika pertama kali melihat korban tidak sadarkan diri diamankan dulu lingkungannya.
Ia mencontohkan jika korban berada di lokasi kebakaran, pastikan korban sudah dijauhkan dari api terlebih dahulu. Penolong tidak boleh memberikan bantuan di tempat yang masih berisiko karena dapat menyebabkan kecelakaan.
“Kemudian kita cek respons, bisa ditepuk-tepuk (bahu), atau ini jari tekan atau tulang dada ini untuk mengecek responsnya, sebentar saja. Kalau dia tidak respons berarti betul tidak sadar. Tapi kalau kita tekan-tekan berarti dia masih sadar, panggil saja bantuan. Jadi kita tidak perlu BHD kalau masih ada respons mengerang atau gerak,” ujar dia.
Baca juga: Bantuan dasar hidup bisa diberikan pada pasien tekanan darah tinggi
Langkah selanjutnya meminta bantuan pertolongan orang lain untuk menghubungi nomor darurat 119 untuk sampaikan informasi secara jelas.
Kemudian, tindakan BHD bisa dilanjutkan dengan mengecek napas korban. Caranya dengan menempelkan telinga ke mulut korban, lihat mata ke dadanya kalau naik turun berarti masih bernapas dan dilihatnya hanya 10 detik.
“Kalau 10 detik tidak ada gerakan dada. Tidak ada, dirasakan kayak udara di pipi ketika menempelkannya pada korban. Berarti betul-betul kemungkinan dia (korban) berhenti jantungnya. Langsung kita melakukan langkah berikutnya, ini resusitasi jantung,” tutur Anastasia.
Dalam hal ini, Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) turut menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar bagi masyarakat termasuk tuna rungu.
Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian program EIMED untuk komunitas yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat awam dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan, khususnya henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).
Baca juga: Praktisi ajak masyarakat pahami kecakapan bantuan hidup saat bencana
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.