Liputan6.com, Gaza - Bagi sebagian anak, bermain di laut mungkin hanyalah bagian sederhana dari masa kanak-kanak. Namun bagi Camelia Hadi, 7 tahun, beberapa jam bermain air di pantai Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan terasa seperti kesempatan untuk mendapatkan kembali masa kecil yang direnggut perang.
Dikutip dari Xinhua, Kamis (27/8/2026), tawa Hadi terdengar ketika ia berenang bersama puluhan anak lainnya di laut lepas. Selama beberapa jam, ia tampak seperti anak seusianya yang menikmati air dan belajar berenang bersama teman-temannya.
Namun, momen seperti itu jarang dirasakan Hadi.
Ia baru berusia empat tahun ketika perang dimulai pada Oktober 2023. Sejak saat itu, keluarganya kehilangan rumah dan harus mengungsi lebih dari 20 kali. Kondisi tersebut juga membuat Hadi harus menjalankan tanggung jawab yang jauh melampaui usianya, termasuk membantu keluarganya mendapatkan air dan roti.
“Ketika berada di sini, saya merasa seperti anak normal,” kata Hadi. “Saya tertawa, bermain, dan belajar berenang. Saya berharap kami bisa selalu datang ke laut dan hidup tanpa rasa takut.”
Hadi merupakan salah satu dari ratusan anak yang mengikuti kegiatan “Swim With Gaza”, sebuah acara renang yang diselenggarakan Tantish Swimming Academy yang berbasis di Gaza dan berlangsung hingga akhir bulan ini.
Inisiatif tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengikuti olahraga dan kegiatan rekreasi, sekaligus membantu mereka mengembangkan kemampuan berenang dan mendapatkan kembali rasa normal setelah bertahun-tahun hidup dalam perang.
Salah satu peserta lainnya adalah Farah Hassan Abu Halima, 11 tahun. Ia mengaku sempat merasa takut dan tidak nyaman ketika pertama kali mengetahui tentang pelajaran renang tersebut. Namun, perasaannya berubah setelah tiba di lokasi kegiatan.
“Awalnya saya takut dan tidak nyaman, tetapi ketika mendengar tentang kursus ini, saya terdorong untuk mendaftar,” ujar Halima. “Ketika tiba, saya menemukan suasana yang luar biasa. Para pelatih renang dan kegiatan yang ada membuat kami bahagia dan membangkitkan semangat.”
Kepala Tantish Swimming Academy, Amjad Tantish, mengatakan lebih dari 2.500 anak telah belajar berenang sejak musim kegiatan saat ini dimulai pada Juni. Program tersebut diluncurkan kembali setelah sebelumnya dihentikan selama perang.
Menurut Tantish, kegiatan “Swim With Gaza” juga diikuti peserta di puluhan lokasi di berbagai belahan dunia sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Gaza. Ia mengatakan, inisiatif itu bertujuan membantu anak-anak menghadapi kondisi sulit yang mereka alami.
“Pelajaran renang ini bukan hanya tentang olahraga. Kegiatan ini memberi anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melupakan sejenak kondisi keras di sekitar mereka,” kata Tantish.
Kemampuan berenang juga memiliki arti praktis bagi anak-anak di Gaza karena banyak dari mereka menghabiskan waktu di sekitar laut. Tantish menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada enam instruktur renang yang tewas selama perang, termasuk saudara laki-lakinya.
Kebutuhan akan ruang seperti ini semakin terlihat dari dampak perang terhadap anak-anak Gaza. Menurut kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas pada Juli, lebih dari 21.500 anak Palestina telah tewas sejak Oktober 2023. Banyak anak lainnya terluka, menjadi yatim piatu, atau terpaksa mengungsi.