Sejarah Tugu Tani kembali banyak dibahas oleh publik setelah digunakan sebagai lokasi demo 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Monumen yang terletak di kawasan persimpangan Jalan Menteng Raya dan Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat ini dipilih sebagai salah satu titik pusat konsentrasi massa pada aksi unjuk rasa peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aksi penyampaian pendapat yang berlangsung pada Selasa (20/10/2026) tersebut melibatkan sekitar 500 mahasiswa dari aliansi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar), termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) serta elemen masyarakat sipil. Massa BEM UI memilih menggelar long march melintasi kawasan Tugu Tani usai pergerakan mereka dihadang aparat kepolisian saat hendak menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Sejarah Tugu Tani sebagai lokasi unjuk rasa bukanlah tanpa alasan. Secara geografis dan historis, kawasan ini berada di posisi yang sangat strategis di pusat kota Jakarta serta berdekatan dengan pusat-pusat pemerintahan. Posisinya yang menghubungkan akses jalan protokol membuat Tugu Tani berkembang menjadi landmark atau tengara kota sekaligus ruang publik yang konsisten digunakan oleh aliansi mahasiswa dan organisasi sipil sebagai simbol ekspresi politik warga.
Guna memahami nilai historis di balik kawasan ini, penting bagi publik untuk mencermati latar belakang pendirian monumen ikonik tersebut.
Sejarah Tugu Tani: Latar Belakang dan Asal-usul Pembangunan Monumen

Sejarah Tugu Tani (https://cdn.visiteliti.com/)
Membahas asal-usul Tugu Tani tidak lepas dari gagasan awal Gubernur pertama Jakarta, Soemarno Sosroatmodjo, pada tahun 1961.
Soemarno menyampaikan ide kepada Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, mengenai pentingnya mendirikan patung yang menonjolkan peran kaum perempuan atas jasa besar mereka selama perang kemerdekaan. Soemarno awalnya mengusulkan konsep figur perempuan menggendong bayi yang berdiri di dekat pancuran dengan cucian di tangan kiri, sementara tangan kanannya menyerahkan sebungkus nasi kepada seorang prajurit yang akan berangkat perang.
Pembuatan monumen ini ditujukan untuk menghormati para pahlawan, khususnya pejuang pembebasan Irian Barat (Papua). Bung Karno tertarik dengan gagasan tersebut dan meminta Soemarno memesan desain kepada para pematung dari Yugoslavia hingga Jepang, namun belum ada rancangan yang dinilai memenuhi keinginan.
Gagasan pendirian monumen tersebut menemukan titik terang saat Bung Karno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet pada era 1960-an di tengah mesranya hubungan diplomasi kedua negara.
Terpukau oleh patung-patung bergaya sosialis-realisme di sana, Bung Karno mengundang seniman terkenal Uni Soviet, Matvey Genrikhovich Manizer, untuk datang langsung ke Indonesia. Manizer merupakan seniman kawakan berprinsip seni revolusioner yang karyanya dikategorikan sebagai tipe klasik oleh Sergei Ivanov dalam buku Unknown Socialist Realism.
Matvey Manizer bersama putranya, Otto Manizer, kemudian berkunjung ke Indonesia dan melakukan survei ke beberapa desa di Jawa Barat untuk menggali karakter lokal melalui cerita rakyat. Terinspirasi dari kisah lokal tentang seorang ibu yang membekali dan mengantarkan anaknya berjuang demi kemerdekaan Indonesia, lahirlah konsep dua figur utama, yaitu prajurit muda membawa senjata dan perempuan pembawa nasi sebagai bentuk dukungan fisik serta moral.
Setelah rancangan konsep tersebut disetujui oleh Bung Karno, kedua pematung kembali ke Uni Soviet untuk menyelesaikan pembuatan patung menggunakan teknik pengecoran perunggu. Setelah selesai dibentuk, patung tersebut dikirimkan ke Indonesia menggunakan kapal laut.
‘Tugu Tani’ Bukanlah Nama Asli
Meskipun masyarakat luas lebih akrab menyebut monumen ini dengan nama Tugu Tani, nama resmi dari bangunan ini adalah Patung Pahlawan atau Tugu Pahlawan.
Penyebutan Tugu Tani lahir karena adanya ambiguitas visual pada bentuk fisik patung jika dilihat oleh masyarakat dari jarak jauh. Dari kejauhan, sosok pria pada patung terlihat mengenakan caping atau topi lebar penahan panas, sehingga kerap disalahpahami sebagai figur seorang petani.
Namun, ketika dicermati dari jarak dekat, figur pria tersebut tidak membawa peralatan pertanian sama sekali, melainkan menyandang senapan bedil. Di samping sosok pria tersebut, berdiri seorang perempuan berkebaya yang membawa keranjang berisi bekal atau menyodorkan sepiring nasi.
Detail elemen visual dari Monumen Pahlawan memuat pesan simbolis yang mendalam mengenai perjuangan bangsa. Figur pria berpakaian petani yang membawa senjata bedil melambangkan sosok prajurit atau rakyat biasa yang terlibat langsung dalam pertempuran fisik mempertahankan kemerdekaan. Kehadiran topi caping yang terpasang di punggungnya menyimbolkan latar belakang rakyat jelata yang turut berjuang di garis depan.
Sementara itu, figur wanita berkebaya melambangkan dukungan moral, logistik, doa, serta pengorbanan besar dari kaum perempuan dan keluarga yang tidak selalu berada di medan pertempuran.
Melalui komposisi kedua sosok tersebut, Tugu Tani menyampaikan pesan simbolis bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil usaha bersama antara pejuang bersenjata dan masyarakat yang memberikan dukungan.
Perpaduan visual ini merangkum narasi panjang tentang nasionalisme, persahabatan internasional Indonesia-Uni Soviet, serta dinamika kontroversi penamaannya di tengah masyarakat.
Peresmian oleh Bung Karno dan Hadiah dari Uni Soviet
Monumen Pahlawan diresmikan secara langsung oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963. Pada masa pemerintahan era Soekarno, pembangunan monumen di ruang-ruang publik menjadi salah satu sarana utama untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan melalui karya seni.
Monumen ini dipersembahkan sebagai hadiah dari pemerintah Uni Soviet kepada pemerintah Indonesia sebagai jejak persahabatan kedua negara, sekaligus bentuk penghormatan atas upaya Indonesia membebaskan Irian Barat dari cengkraman kolonialisme.
Keberadaan Tugu Tani juga menjadi objek kajian akademis dalam bidang arsitektur perkotaan. Dalam artikel ilmiah berjudul A Relational Model of Identity, Symbolism, and Representation in Soekarno-Era Monuments within the Urban Architecture of Jakarta yang terbit di ARTEKS: Jurnal Teknik Arsitektur pada tahun 2026, Tugu Tani dibahas sebagai salah satu monumen ikonik era Soekarno yang membawa pesan simbolis kuat tentang identitas dan nilai-nilai perjuangan bangsa.
Seiring berjalannya waktu, tata ruang di sekeliling Tugu Tani berkembang menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan kawasan Menteng, Gambir, dan Tanah Abang. Tata ruang terbuka publik di sekitarnya menjadikan lokasi ini sangat ideal sebagai titik kumpul aktivitas masyarakat.
Kehadiran ratusan mahasiswa pada aksi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran mempertegas kembali fungsi kawasan Tugu Tani sebagai ruang ekspresi demokrasi. Penggunaan lokasi ini secara konsisten oleh elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil menunjukkan bahwa nilai sejarah monumen sebagai simbol perjuangan rakyat tetap hidup dan relevan dengan dinamika sosial-politik modern.