Ringkasan

Sejarah Gunung Krakatau mencatat rangkaian aktivitas vulkanik yang berlangsung selama berabad-abad. Peristiwa terpentingnya terjadi pada 1883 ketika erupsi besar menghancurkan sebagian besar Pulau Krakatau, membentuk kaldera dan memicu tsunami yang menewaskan sekitar 36.000 orang. Setelah itu, aktivitas vulkanik kembali muncul dan membentuk Anak Krakatau. Pada 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami di pesisir Banten serta Lampung.

Secara sederhana, perjalanan sejarah Krakatau dapat diringkas sebagai berikut:

  • Sebelum 1883: Krakatau relatif tenang selama setidaknya sekitar 200 tahun.

  • Mei 1883: tanda-tanda aktivitas vulkanik kembali terlihat.

  • 26–27 Agustus 1883: terjadi rangkaian letusan dahsyat.

  • Setelah 1883: sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan terbentuk kaldera.

  • 1920-an: aktivitas vulkanik kembali muncul dan menjadi awal pertumbuhan Anak Krakatau.

  • 22 Desember 2018: runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami Selat Sunda.

  • April 2020: Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.

Artinya, sejarah Krakatau bukan cerita tentang satu letusan yang selesai dalam beberapa hari. Peristiwa 1883 justru menjadi titik awal perubahan besar yang melahirkan fase baru aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.

Bagaimana kondisi Krakatau sebelum letusan 1883?

Sebelum memasuki masa erupsi besar, Krakatau diperkirakan relatif tenang selama setidaknya 200 tahun. Pulau tersebut tidak berpenghuni sehingga aktivitas vulkanik yang kemudian muncul menjadi perhatian terutama bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda.

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), pada awal Mei 1883 kepulan abu dan debu dari Pulau Krakatau terlihat oleh kapten kapal perang Jerman Elisabeth.

Penampakan tersebut menjadi salah satu catatan awal mengenai kebangkitan aktivitas vulkanik Krakatau. Dalam dua bulan berikutnya, kapal komersial dan kapal wisata yang melintas di kawasan itu juga melaporkan adanya kepulan hitam, suara ledakan, serta lontaran material vulkanik.

Pada tahap awal, fenomena tersebut bahkan menarik perhatian masyarakat di pulau-pulau sekitar Jawa dan Sumatera. Letusan yang terlihat dari kejauhan dapat dianggap sebagai pemandangan menakjubkan.

Namun, ada paradoks dalam peristiwa ini. Aktivitas yang semula terlihat menarik ternyata merupakan tanda awal dari bencana yang skalanya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan masyarakat pada saat itu.

Baca Juga: Gunung Meletus dan Abu Vulkanik, Apakah Tanda Allah Murka? Ini Kata Al-Qur'an

Baca Juga: Pemerintah Terus Memantau dan Bekerja di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Apa yang terjadi saat Krakatau meletus pada 26–27 Agustus 1883?

Puncak sejarah letusan Krakatau terjadi pada 26 dan 27 Agustus 1883.

Setelah berbulan-bulan menunjukkan aktivitas vulkanik, ledakan semakin besar pada 26 Agustus. Sehari kemudian, 27 Agustus 1883, rangkaian ledakan mencapai tahap yang sangat dahsyat.

Sebagian besar kawasan utara Pulau Krakatau kemudian runtuh ke laut. Letusan mengeluarkan abu vulkanik, batu apung, lava, dan material batuan dalam jumlah sangat besar.

Kejadian tersebut bukan sekadar ledakan dari sebuah gunung api. Lokasi Krakatau yang berada di tengah laut membuat perubahan pada tubuh gunung memiliki konsekuensi tambahan: material vulkanik dan bagian gunung yang masuk ke laut dapat memengaruhi massa air dan memicu tsunami.

Di sinilah sejarah Krakatau menjadi berbeda dari sekadar kisah erupsi gunung api biasa. Bencana tersebut merupakan kombinasi antara aktivitas vulkanik, keruntuhan tubuh gunung, dan ancaman laut.

Mengapa letusan Krakatau 1883 begitu dahsyat?

Salah satu alasan pentingnya adalah jumlah material yang terlontar dalam rangkaian erupsi tersebut.

Diperkirakan hingga sekitar 21 kilometer kubik fragmen batuan terlontar selama rangkaian letusan. Sebagian material mencapai atmosfer dalam jumlah sangat besar dan kemudian menyebar ke wilayah yang luas.

Letusan juga menghasilkan aliran piroklastik. Material ini merupakan campuran gas panas, abu vulkanik, batu apung, dan bongkahan lava yang dapat bergerak dengan kecepatan tinggi serta memiliki suhu ekstrem.

Dalam kondisi seperti itu, kehancuran tidak hanya terjadi di sekitar kawah. Material panas dapat menghancurkan, membakar, atau mengubur objek yang berada di jalurnya.

Namun, jika melihat jumlah korban, letusan itu menunjukkan sesuatu yang lebih penting: bahaya terbesar Krakatau 1883 tidak hanya berasal dari material vulkaniknya.

Mengapa tsunami menjadi penyebab utama korban Krakatau 1883?

Dari sekitar 36.000 orang yang meninggal dalam bencana Krakatau 1883, lebih dari 34.000 kematian dikaitkan dengan tsunami.

Angka tersebut memperlihatkan betapa pentingnya laut dalam sejarah bencana Krakatau. Pesisir Jawa dan Sumatera berada relatif dekat dengan sumber gangguan di Selat Sunda sehingga gelombang dapat mencapai wilayah permukiman dengan daya rusak besar.

Di Banten, gelombang terbesar diperkirakan mencapai sekitar 41 meter. Sedikitnya 165 permukiman di kawasan sekitar dilaporkan hancur akibat gelombang tersebut.

Tsunami menyapu vegetasi, menghancurkan rumah, dan menyeret manusia ke laut. Dengan teknologi peringatan dini yang belum tersedia seperti sekarang, masyarakat pesisir pada masa itu juga memiliki keterbatasan untuk mengetahui bahwa perubahan aktivitas gunung di tengah laut dapat segera berubah menjadi bencana tsunami.

Jika lebih dari 34.000 dari sekitar 36.000 korban dikaitkan dengan tsunami, maka satu pelajaran penting dari Krakatau 1883 adalah bahwa gunung api di wilayah kepulauan dapat menghasilkan bahaya yang melampaui letusan itu sendiri.

Seberapa luas dampak letusan Krakatau?

Dampak Krakatau tidak berhenti di sekitar Selat Sunda.

Salah satu ledakan terbesar melontarkan material vulkanik hingga sekitar 80 kilometer ke atmosfer. Material tersebut kemudian menyebar ke wilayah yang sangat luas, diperkirakan mencapai sekitar 800.000 kilometer persegi.

Kawasan di sekitar Krakatau mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari karena tertutup material vulkanik.

Dampaknya bahkan dapat diamati di atmosfer. Material vulkanik yang tersebar memengaruhi cahaya Matahari dan Bulan sehingga menghasilkan fenomena optik seperti halo.

Material di atmosfer juga mengurangi jumlah radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi. Dalam narasi sejarah Krakatau, kondisi tersebut dikaitkan dengan penurunan suhu global sekitar 0,5 derajat Celsius pada tahun setelah letusan.

Suhu kemudian secara bertahap kembali menuju kondisi normal sekitar 1888.

Dengan demikian, pengaruh Krakatau 1883 dapat dilihat dalam tiga tingkatan: kehancuran lokal, dampak regional, dan efek atmosferik yang menjangkau dunia.

Mengapa suara letusan Krakatau terdengar ribuan kilometer?

Krakatau 1883 juga terkenal karena suara ledakannya yang terdengar sangat jauh.

Laporan sejarah menyebut suara ledakan terdengar hingga Australia dan Pulau Mauritius yang berjarak lebih dari 4.600 kilometer dari Krakatau.

Di sejumlah lokasi, suara tersebut dilaporkan terdengar seperti suara tembakan. Ledakan juga menghasilkan gelombang tekanan atmosfer yang bergerak mengelilingi Bumi beberapa kali.

Instrumen pengukuran di Inggris dan Amerika Serikat bahkan mencatat perubahan tekanan atmosfer yang berkaitan dengan ledakan tersebut.

Hal ini penting karena memperlihatkan bahwa skala erupsi Krakatau dapat dideteksi bukan hanya melalui kehancuran di sekitar gunung, tetapi juga melalui respons atmosfer pada jarak yang sangat jauh.

Bagaimana Krakatau berubah menjadi kaldera?

Letusan besar 1883 mengubah bentuk Krakatau secara permanen.

Ketika sebagian besar tubuh gunung runtuh dan masuk ke laut, bagian pulau yang tersisa kemudian membentuk sebuah cekungan vulkanik berukuran besar yang dikenal sebagai kaldera.

Kaldera Krakatau memiliki diameter sekitar 6 kilometer.

Kaldera berbeda dengan kawah kecil yang biasanya terlihat di puncak gunung. Kaldera merupakan cekungan berukuran besar yang terbentuk ketika bagian gunung mengalami keruntuhan setelah aktivitas vulkanik berskala sangat besar.

Inilah salah satu titik terpenting dalam sejarah Krakatau.

Gunung yang sebelumnya berdiri sebagai sebuah pulau berubah menjadi sistem vulkanik dengan kaldera. Namun, proses geologis di kawasan itu ternyata belum selesai.

Bagaimana Anak Krakatau terbentuk?

Setelah letusan 1883, kawasan Krakatau relatif tenang selama beberapa dekade. Namun, aktivitas vulkanik kembali muncul pada 1920-an.

Dari kawasan kaldera bekas letusan tersebut, perlahan tumbuh sebuah kerucut gunung api baru. Gunung itu kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Nama tersebut secara sederhana berarti “anak Krakatau”. Sebutan itu menggambarkan posisi historisnya sebagai gunung api baru yang tumbuh dari kawasan yang sebelumnya mengalami kehancuran besar.

Anak Krakatau kemudian terus tumbuh melalui aktivitas erupsi yang berulang sepanjang abad ke-20.

Di sinilah terdapat salah satu hal menarik dalam sejarah Krakatau: kehancuran tidak selalu menjadi akhir dari sebuah sistem gunung api.

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar Krakatau lama, tetapi proses vulkanik di kawasan tersebut tetap berjalan. Dari lingkungan geologi yang berubah itu kemudian tumbuh gunung baru.

Apa yang terjadi pada Anak Krakatau pada 2018?

Pada 22 Desember 2018, sejarah kawasan Krakatau kembali memasuki fase mematikan.

Anak Krakatau sedang mengalami aktivitas vulkanik ketika sebagian tubuh gunung tersebut runtuh ke laut. Material yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Sedikitnya 437 orang meninggal dunia, lebih dari 30.000 orang terluka, dan lebih dari 30.000 orang harus mengungsi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berupa abu atau lava.

Gunung yang tumbuh di kawasan laut memiliki karakter risiko tersendiri. Jika sebagian tubuhnya menjadi tidak stabil dan runtuh ke laut, material tersebut dapat menghasilkan gangguan pada air yang kemudian berubah menjadi tsunami.

Apa perbedaan Krakatau 1883 dan Anak Krakatau 2018?

Meskipun sama-sama berkaitan dengan kawasan Krakatau dan menghasilkan tsunami, kedua peristiwa tersebut tidak dapat disamakan begitu saja.

Aspek

Krakatau 1883

Anak Krakatau 2018

Gunung

Krakatau

Anak Krakatau

Peristiwa utama

Erupsi besar

Aktivitas vulkanik dan keruntuhan tubuh gunung

Dampak utama

Kehancuran besar dan tsunami

Tsunami Selat Sunda

Kondisi gunung

Krakatau lama mengalami kehancuran besar

Sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh

Dampak korban

Sekitar 36.000 orang meninggal

Sedikitnya 437 orang meninggal

Perubahan setelah kejadian

Terbentuk kaldera

Anak Krakatau kehilangan sebagian volumenya

Perbedaan ini penting agar sejarah Krakatau tidak disederhanakan menjadi cerita bahwa “letusan gunung menyebabkan tsunami”.

Pada 2018, keruntuhan sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut menjadi faktor penting dalam terbentuknya tsunami. Dengan kata lain, ketidakstabilan tubuh gunung di lingkungan laut sendiri merupakan sumber bahaya yang harus diperhitungkan.

Apa yang terjadi pada Anak Krakatau setelah tsunami 2018?

Tsunami 2018 mengubah bentuk Anak Krakatau secara signifikan. Gunung tersebut kehilangan sekitar dua pertiga volumenya.

Meski demikian, aktivitas vulkanik tidak berhenti.

Anak Krakatau kembali mengalami pertumbuhan dan erupsi. Pada 10 April 2020, gunung tersebut kembali meletus.

Kondisi Anak Krakatau setelah peristiwa tersebut bahkan dapat diamati dari luar angkasa. Pada 13 April 2020, satelit Landsat 8 merekam kondisi gunung setelah erupsi.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Anak Krakatau masih merupakan proses yang berlangsung. Gunung itu bukan peninggalan pasif dari bencana 1883, melainkan bagian dari sistem vulkanik yang terus berubah.

Sejarah Krakatau bukan sekadar cerita tentang satu letusan

Jika seluruh rangkaian tersebut disusun dalam satu garis waktu, perubahan Krakatau terlihat jauh lebih jelas:

Krakatau relatif tenang → aktivitas kembali muncul pada 1883 → letusan dahsyat → sebagian tubuh gunung runtuh → kaldera terbentuk → aktivitas vulkanik kembali muncul → Anak Krakatau tumbuh → Anak Krakatau mengalami erupsi → sebagian tubuhnya runtuh pada 2018 → tsunami terjadi → aktivitas vulkanik berlanjut.

Garis waktu tersebut menunjukkan sebuah paradoks.

Krakatau memang dikenal karena kehancuran pada 1883. Namun, kehancuran itu sekaligus menciptakan kondisi geologis tempat gunung api baru kemudian tumbuh.

Karena itu, sejarah Krakatau sebenarnya bukan hanya kisah tentang gunung yang meletus. Ini adalah cerita mengenai perubahan bentuk sebuah sistem vulkanik dan munculnya jenis bahaya yang berbeda dari satu periode ke periode berikutnya.

Krakatau 1883 menunjukkan betapa dahsyatnya kombinasi erupsi dan laut. Anak Krakatau 2018 menunjukkan bahwa bahkan ketika sebuah gunung jauh lebih kecil dibandingkan Krakatau lama, keruntuhan tubuhnya tetap dapat menghasilkan bencana besar.

Mengapa sejarah Krakatau masih penting dipelajari?

Krakatau berada di kawasan Indonesia yang memiliki banyak gunung api aktif dan wilayah pesisir yang padat penduduk.

Sejarahnya menjadi contoh konkret bahwa risiko gunung api tidak selalu berhenti pada lava, abu, atau letusan. Di wilayah kepulauan seperti Indonesia, aktivitas gunung api juga dapat berinteraksi dengan laut dan menghasilkan tsunami.

Bagi masyarakat, memahami sejarah seperti Krakatau membantu melihat bencana bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri, tetapi sebagai rangkaian proses.

Pada 1883, masyarakat menyaksikan kebangkitan gunung yang semula relatif tenang. Setelah itu, mereka menghadapi letusan, kegelapan, dan tsunami. Beberapa dekade kemudian, gunung baru muncul dari kawasan yang sama. Puluhan tahun setelahnya, Anak Krakatau kembali menunjukkan bahwa sistem vulkanik tersebut masih aktif.

Itulah alasan sejarah Krakatau tetap relevan hingga sekarang.

Kisahnya bukan hanya tentang apa yang terjadi pada 27 Agustus 1883, melainkan tentang bagaimana sebuah kawasan dapat terus berubah setelah sebuah bencana besar.

Dari Krakatau yang hancur, lahirlah Anak Krakatau. Dan dari perjalanan tersebut, kita belajar bahwa dalam sejarah gunung api, akhir sebuah letusan belum tentu menjadi akhir dari sebuah ancaman.

Pantau terus perkembangan dan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dari lembaga berwenang untuk memahami kondisi kawasan Krakatau dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Daftar Daerah yang Menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Baca Juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Telah Berakhir, Status Ditetapkan Level III

FAQ

Apa sejarah Gunung Krakatau?

Sejarah Gunung Krakatau mencakup aktivitas vulkanik sebelum dan sesudah letusan besar 1883. Erupsi pada 26–27 Agustus 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau, membentuk kaldera, dan memicu tsunami yang menyebabkan sekitar 36.000 korban jiwa. Beberapa dekade kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dan membentuk Anak Krakatau di kawasan kaldera tersebut.

Kapan Gunung Krakatau meletus paling dahsyat?

Letusan paling dahsyat dalam sejarah modern Krakatau terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Setelah beberapa bulan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, Krakatau mengalami rangkaian ledakan besar yang menghancurkan sebagian besar tubuh pulau dan menghasilkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar.

Berapa korban letusan Krakatau 1883?

Bencana Krakatau 1883 menewaskan sekitar 36.000 orang. Sebagian besar korban jiwa dikaitkan dengan tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatera. Lebih dari 34.000 kematian disebut berkaitan dengan gelombang tsunami, sehingga tsunami menjadi faktor utama dalam besarnya jumlah korban.

Mengapa letusan Krakatau menyebabkan tsunami?

Tsunami Krakatau 1883 berkaitan dengan perubahan besar pada tubuh gunung dan perpindahan material ke laut selama rangkaian erupsi. Posisi Krakatau di Selat Sunda membuat aktivitas vulkanik tersebut dapat berinteraksi langsung dengan laut dan menghasilkan gelombang yang kemudian menerjang kawasan pesisir.

Bagaimana Anak Krakatau terbentuk?

Anak Krakatau mulai muncul dari kawasan kaldera bekas letusan Krakatau 1883 setelah aktivitas vulkanik kembali terjadi beberapa dekade kemudian. Aktivitas tersebut membentuk kerucut gunung api baru yang kemudian terus tumbuh melalui erupsi berulang sepanjang abad ke-20.

Apa hubungan Krakatau dengan Anak Krakatau?

Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh di kawasan kaldera yang terbentuk setelah kehancuran Krakatau pada 1883. Jadi, Anak Krakatau bukan sekadar nama lain dari Krakatau lama, melainkan gunung api yang muncul kemudian sebagai bagian dari sistem vulkanik di kawasan tersebut.

Apa yang menyebabkan tsunami Anak Krakatau 2018?

Tsunami 2018 berkaitan dengan runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut ketika gunung tersebut sedang mengalami aktivitas vulkanik. Perpindahan material gunung ke laut mengganggu massa air dan menghasilkan tsunami yang kemudian menerjang pesisir Banten dan Lampung.