Simpang Empat (ANTARA) - Sebanyak 30 orang warga lanjut usia (lansia) Paraman Ampalu, Rabi Jonggor, Kecamatan Gunung Tuleh, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat melakukan wisuda sederhana setelah mengikuti pendidikan melalui sekolah informal.
"Hari ini kita sangat bahagia bisa melihat warga lansia melaksanakan wisuda setelah mengikuti pendidikan melalui Sekolah Lansia Melati Nagari Rabi Jonggor," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Armen di Paraman Ampalu, Kamis.
Menurutnya pihaknya sejak 15 Juni 2026 telah membentuk Sekolah Lansia Melati dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap produktif dan bermanfaat serta memberikan kesempatan kepada mereka agar mampu berperan aktif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
"Kita menginginkan para lansia menjadi SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat," kata dia.
Menurutnya pendidikan itu dilakukan dengan tujuh dimensi lansia tangguh mulai dari aspek spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional-profesional, serta lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah.
"Jumlah siswa Sekolah lansia Melati sebanyak 30 orang dari 383 orang lansia yang ada di Nagari Rabi Jonggor. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan dengan 12 materi atau mata ajar yang berpedoman pada petunjuk teknis Sekolah Lansia," ujar dia.
Dia menyebutkan kegiatan sekolah lansia ini dilaksanakan Indoor di Aula kantor Wali Nagari Rabi Jonggor dan di selingi Outdoor sesuai kebutuhan pembelajaran dengan tidak mengurangi tujuan dari pembelajaran tersebut.
Adapun pengajar pada Sekolah Lansia terdiri dari dokter dan pemegang program pada jajaran Puskesmas Paraman Ampalu, Kepala KUA Kecamatan Gunung Tuleh dan jajaran, Petugas Keluarga Berencana dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana.
"Hari ini mereka di wisuda sebanyak 30 orang terdiri dari delapan orang laki-laki dan 22 orang lansia perempuan," ujar dia.
Dia mengharapkan dengan adanya sekolah lansia ini bisa lahirkan lansia tangguh, berdaya dan sehat serta lansia yang merasa aman dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan sesuai dengan minat dan potensinya.
Tim kerja Pembangunan Keluarga BKKBN Provinsi Sumbar Vionalisa mengatakan pendidikan tidak boleh berhenti oleh usia.
"Sekolah lansia ini untuk meningkatkan pengetahuan mempelajari aspek kesehatan fisik, sosial, sosial, ekonomi," ujarnya.
Sementara itu Staf Ahli Tim Penggerak PKK Pasaman Barat Gusmalini menyambut baik adanya sekolah lansia itu.
"Kedepannya kita akan mengintegrasikan sekolah lansia ini dengan program PKK yang ada sehingga bisa meningkatkan pembinaan kepada keluarga," katanya.
Salah seorang siswa lansia Lili Hana (63) tidak menyangka akan bisa menempuh pendidikan di usia senja.
"Sangat banyak manfaatnya. Banyak ilmu yang kita peroleh mulai dari kesehatan, mental gizi dan lainnya," ujarnya.