SBY Art Community Gelar Kolaborasi Lintas Generasi dan Budaya, Suarakan Pesan Perdamaian Lewat Seni Lukis
"Tema perdamaian dan cita cita akan dunia yang lebih baik dipilih sebagai fokus utama untuk merespons dinamika global dan kebutuhan akan solidaritas. Kami berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi sosial, memperkuat semangat kebersamaan, dan menumbuhkan optimisme masa depan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan visi Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang ingin senantiasa menyuarakan perdamaian dan dunia yang lebih baik melalui seni terutama seni lukis," terang Ketua Koordinator Pameran SAC 2026, Letjen (Purn) Ediwan Prabowo, Selasa (18/8/2026).
Pameran akan menampilkan 150 karya lukisan dari 27 seniman Indonesia, termasuk karya SBY, seniman cilik dan seniman tamu dari Kornfeld Galerie Berlin, Christopher Lehmpfuhl.
"Ini merupakan kolaborasi lintas generasi dengan adanya rentang usia antara 10 tahun sampai 76 tahun. Lintas budaya menjadi sebuah keunikan sendiri dari pameran ini karena adanya sister city collaboration antara Jakarta dan Berlin, sekaligus menandai HUT DKI yang ke-499 tahun ini," jelas Marsma (Purn) Akbar Linggaprana, Wakil Ketua Pameran SAC 2026 yang juga salah satu seniman yang turut serta dalam pameran ini.
Baca Juga: Lukisan Denny JA yang Diberkati Paus Fransiskus Diprediksi Bernilai Hingga Rp34 Miliar
Selain pameran, akan diadakan program publik berupa artist talk dan tur pameran yang akan dipandu kurator, panitia dan gallery sitter yang terbuka untuk masyarakat umum.
Masyarakat diundang untuk berpartisipasi aktif, baik sebagai penikmat maupun pendukung kegiatan seni.
"Art for Peace and Better Future: Collaboration mengomunikasikan seni bukan hanya aktivitas estetis, tetapi juga tindakan etis. Setiap sapuan kuas, setiap percakapan, dan setiap perjumpaan membuka kemungkinan baru bagi hubungan antarmanusia. Melalui karya, Christopher Lehmpfuhl, seluruh
anggota SBY Art Community, Agung Fitriana, Agus TBR, Akbar Linggaprana, Bambang Sugiarto, Catur Nugroho, Cia Syamsiar, Flavia Giulietta, Guntur Wibowo, I Gede Arya Sucitra, Imam Bawon, Koelo Maryam, La Ode Umar Arsuria, Masdibyo, Naufal Abshar, Ricki Roganda Sitepu, Rizky Romansyah, Susilo Bambang Yudhoyono, Tjokorda Bagus Wiratmaja, Tony Siswoyo, Willy Himawan, Zusfa Roihan serta para seniman cilik: Jaden Anders (Tangerang Selatan), Navya Adiba Zahra (Malang), I Gusti Ayu Mirah Djelantik (Bali), Darka Astatanu Hasmanto (Yogyakarta), Garnetta Joy Pasalli (Bandung) pameran ini memperlihatkan bahwa perdamaian tidak pernah hadir sebagai satu suara, melainkan sebagai himpunan pengalaman yang saling melengkapi," papar Gie Sanjaya, dalam curatorial notes untuk pameran ini.
Christopher Lehmpfuhl, yang mewakili Kornfeld Galerie Berlin, mengekspresikan rekaman visual tradisi en plein air Jerman dengan keragaman lanskap Indonesia.
Baca Juga: Putri Acha Septriasa Gelar Pameran Lukisan Perdana, Bakat Seni Sejak Usia 2 Tahun
Karya-karya yang dipamerkan lahir dari teknik khasnya, yaitu mengaplikasikan lapisan impasto tebal secara langsung menggunakan tangan.
Selama dua pekan ia melukis bersama para seniman SBY Art Community di Jakarta, Cisarua, Borobudur, dan Pacitan. Menjadikan setiap lokasi sebagai ruang dialog antara pengalaman yang dihayati, cahaya, cuaca, materialitas, dan kehadiran fisik pelukis.
Christopher menerjemahkan pengalamannya di Indonesia menjadi permukaan-permukaan lukisan yang kaya akan tekstur, warna, gerak, dan cahaya.
Jakarta menghadirkan denyut kota metropolitan yang dinamis, Borobudur memancarkan resonansi spiritual sebagai sebuah warisan dunia, sementara bentang pegunungan Cisarua dan pesisir selatan Pacitan menawarkan pengalaman yang sama kuatnya dalam memperlihatkan keragaman lanskap Indonesia.
Sebagai salah satu pelukis en plein air kontemporer terkemuka di Jerman, kehadiran Christopher di Indonesia pada Juli-Agustus 2026 menjadi bagian penting dari sebuah kolaborasi artistik dan budaya, sister city Jakarta-Berlin.
Baca Juga: 5 Lukisan Termahal di Dunia: Dari Misteri, Sejarah, hingga Fantasi Harga Miliaran
Pameran ini turut didukung oleh The Yudhoyono Institute, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan RI, Kementerian Ekonomi Kreatif RI, serta sejumlah mitra seni dan budaya.
Dukungan ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat seni rupa global.