Satu Anak Tewas Setiap Hari di Gaza Sejak Gencatan Senjata
Bagikan:
JAKARTA - Setidaknya 300 anak telah tewas di Gaza dalam kurun waktu sekitar 300 hari sejak apa yang disebut sebagai "gencatan senjata" diumumkan pada 10 Oktober 2025 - rata-rata satu anak per hari - ungkap United Nations Children's Fund (UNICEF).
Ratusan anak lainnya terluka, banyak di antaranya mengalami luka parah, kata UNICEF dalam pernyataan pada Hari Kamis, sembari mendesak pihak-pihak yang terlibat dalam usulan rencana perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat untuk mewujudkan janji mereka menjadi tindakan nyata.
"Gencatan senjata yang mengakibatkan rata-rata satu anak tewas setiap harinya adalah kegagalan bagi anak-anak," ujar Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara Edouard Beigbeder, dikutip dari Al Jazeera (7/8)
"Anak-anak di Gaza masih menantikan berakhirnya kekerasan yang telah dijanjikan kepada mereka," tandasnya.
Saat ini, keluarga-keluarga terjebak di wilayah yang mencakup sekitar sepertiga dari kawasan tersebut, berlindung di antara bangunan-bangunan yang hancur, puing-puing, dan tumpukan sampah yang belum dibersihkan, ungkap badan tersebut.
Anak-anak terus menghadapi ancaman gizi buruk akut, penyakit, air yang tidak aman, dan sanitasi yang rusak, sementara kekurangan inkubator memaksa beberapa bayi baru lahir prematur untuk berbagi mesin yang sama.
Sejak Oktober 2023, perang genosida Israel terhadap Gaza telah menewaskan lebih dari 73.300 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan di wilayah tersebut.
UNICEF menyatakan lebih dari 58.000 anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, sementara lebih dari satu juta anak membutuhkan perlindungan dan dukungan psikososial.
Badan tersebut sebelumnya memperkirakan sekitar 17.000 anak hidup tanpa pendamping atau terpisah dari keluarga mereka, salah satu krisis perlindungan anak terbesar di dunia. Banyak keluarga mengalami pengungsian berulang kali, kehilangan penghasilan, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.
Dalam sebuah serangan di bagian barat Kota Gaza pada 2 Agustus, warga menemukan jenazah bayi yang belum lahir dari balik reruntuhan setelah serangan tersebut menewaskan seorang wanita hamil, suaminya, dan putra mereka yang berusia lima tahun, demikian dilaporkan Al Jazeera.
Selain bahaya fisik, para pekerja kemanusiaan menggambarkan adanya satu generasi yang kehilangan masa kanak-kanak mereka.
Di tengah musim panas ketiga masa perang yang sedang berlangsung, banyak anak menghabiskan hari-hari mereka dengan mengambil air, mengantre makanan, dan mengumpulkan kayu bakar alih-alih bermain; sementara itu, kamp musim panas, perlengkapan seni, bahkan kertas dan pena masih sulit didapatkan di kamp-kamp pengungsian, menurut UNICEF dan berbagai kelompok bantuan.
Sebuah penilaian UNICEF pada Bulan Mei menemukan anak-anak kecil tidak memiliki lingkungan yang aman dan merangsang yang dibutuhkan untuk perkembangan usia dini, serta anak-anak usia sekolah menghadapi gangguan belajar berkepanjangan dengan sedikit harapan untuk pulih tanpa bantuan yang terarah.
"Bermain adalah cara anak-anak mendapatkan kembali apa yang telah direnggut oleh perang dari mereka," ujar Kepala Komunikasi UNICEF untuk Palestina, Jonathan Crickx, awal tahun ini, menggambarkan kegiatan bermain sebagai hal yang esensial, bukan sekadar kemewahan.
Beigbeder menyambut baik pengumuman terkini yang mengarah pada langkah-langkah penghentian permusuhan dan peningkatan penyaluran bantuan.
"Bagi anak-anak di Gaza, tolok ukurnya sederhana. Apakah pembunuhan berhenti? Apakah bantuan menjangkau mereka dalam jumlah besar? Apakah rumah sakit kembali beroperasi dan air kembali mengalir?" ujarnya.
BACA JUGA:
Minggu ini, UNICEF menyalurkan lebih dari 600 palet perlengkapan sekolah dan sabun menjelang tahun ajaran baru yang diperkirakan akan dimulai dalam waktu dua minggu.
Terpisah, sumber di medis di Gaza mengonfirmasi korban jiwa akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah mencapai 73.382 warga Palestina tewas dan 174.236 orang terluka sejak 7 Oktober 2023, dikutip dari laporan WAFA Hari Kamis.
Mereka menambahkan bahwa total warga Palestina yang tewas sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada 11 Oktober tahun lalu telah mencapai 1.255 jiwa, sementara jumlah korban luka meningkat menjadi 4.125 orang. Sebanyak 806 jenazah juga telah ditemukan selama periode yang sama.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+