Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan harga komponen memori dan merosotnya profitabilitas perangkat memaksa Samsung memangkas produksi ponsel pintarnya secara signifikan pada kuartal keempat tahun ini.
Media Korea Selatan, Money Today, melaporkan divisi Mobile Experience (MX) Samsung baru-baru ini meminta para pemasok untuk mengurangi volume produksi sebesar 20 hingga 30 persen.
Mengutip Android Authority, Sabtu (10/10/2026), berdasarkan sejumlah sumber, keputusan ini diambil terutama akibat kenaikan harga komponen memori.
Raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut berupaya menghindari produksi ponsel yang hanya memberikan keuntungan minim atau bahkan merugikan.
Volume produksi HP Samsung biasanya memang cenderung menurun mendekati akhir tahun. Hal ini lumrah karena konsumen biasanya menahan diri untuk menunggu peluncuran lini flagship S-series generasi terbaru pada Januari atau Februari.
Namun, Money Today mencatat rencana pemangkasan kali ini jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
Seberapa Banyak Unit yang Dipangkas?
Sebelumnya perusahaan diperkirakan akan memproduksi hingga 270 juta unit ponsel tahun ini. Namun, dengan pemotongan tambahan pada kuartal keempat, total produksi tahunan diperkirakan melorot ke kisaran 200 juta unit.
Seorang sumber anonim mengungkapkan margin keuntungan ponsel Samsung saat ini hampir tergerus habis setelah memperhitungkan kenaikan biaya memori dan semikonduktor.
Sumber itu juga menyatakan langkah pengurangan produksi menjadi strategi utama perusahaan demi menjaga profitabilitas secara keseluruhan.
Data dari lembaga riset pasar TrendForce menunjukkan harga memori LPDDR5X kapasitas 12GB untuk ponsel pintar mencapai angka USD 145 (sekitar Rp 2,5 jutaan) hingga USD 146 (sekitar Rp 2,6 jutaan) pada kuartal kedua, atau melonjak 175 persen dibanding tahun lalu.
Tren kenaikan ini diperkirakan berlanjut hingga 20 persen pada kuartal ketiga, yang berpotensi menembus harga USD 180 (sekitar Rp 3,2 jutaan) untuk kapasitas 12GB.
Terjepit Lonjakan Biaya Komponen
Kondisi ini sangat menyulitkan produsen ponsel pintar seperti Samsung, karena komponen memori menyedot porsi biaya produksi yang sangat besar, sementara harga jual ponsel tidak bisa dinaikkan secepat lonjakan biaya bahan baku.
Oleh karena itu, memangkas volume produksi menjadi pilihan paling rasional saat penjualan perangkat tidak lagi menguntungkan.
Hingga saat ini, pihak Samsung belum memberikan konfirmasi resmi terkait kabar pemangkasan produksi sebesar 20 hingga 30 persen tersebut.