Sabtu, 26 September 2026 - 16:38 WIB

VIVA - Keamanan dan transparansi menjadi perhatian penting dalam industri aset digital. Untuk memperkuat kepercayaan pengguna, OKX kembali menerbitkan laporan Proof of Reserves (PoR) bulanan yang kini memasuki edisi ke-47, sekaligus memperkuat sistem perlindungan pengguna melalui OKX Protect.

Baca Juga

Dalam laporan terbaru yang diverifikasi pada 8 September 2026 pukul 00.00 UTC+8 (pukul 08.00 WIB), OKX mencatat total aset utama senilai US$27,4 miliar (Rp490,85 triliun).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Delapan aset utama yang diperiksa, yaitu Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), USD Coin (USDC), XRP, Dogecoin (DOGE), Solana (SOL), dan OKB, memiliki rasio cadangan sebesar 100 persen atau lebih.

Baca Juga

Publikasi laporan PoR secara rutin selama 47 bulan berturut-turut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memberikan gambaran mengenai ketersediaan cadangan aset yang mendukung dana pengguna. Melalui mekanisme ini, pengguna dapat melakukan verifikasi terhadap kondisi cadangan yang dimiliki.

“Kepercayaan tidak cukup dibangun melalui janji. Kepercayaan perlu didukung oleh transparansi yang dapat diverifikasi dan perlindungan yang terus berkembang,” kata Growth Manager OKX Wallet, Ferry.

Baca Juga

Menurutnya, laporan PoR bulanan dan sistem OKX Protect dirancang untuk memberikan visibilitas yang lebih jelas kepada pengguna sekaligus menghadapi perkembangan ancaman keamanan digital.

Selain transparansi cadangan aset, OKX juga mengembangkan OKX Protect sebagai sistem keamanan berlapis yang mencakup perlindungan akun, keamanan aset dan self-custody, keamanan platform, layanan dukungan 24/7, pertahanan siber, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Sistem tersebut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan, potensi penipuan, alamat berisiko, hingga upaya penyamaran identitas.

Beberapa teknologi yang digunakan antara lain Eagle-Eye untuk mendeteksi deepfake dan mendukung proses verifikasi identitas, TARDIS yang menganalisis pola perilaku pengguna serta transaksi untuk mendeteksi indikasi penipuan, serta SkyNet yang memantau aktivitas blockchain guna mengidentifikasi potensi ancaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penggunaan teknologi tersebut juga dilengkapi pengawasan manusia secara berkelanjutan serta evaluasi independen dari perusahaan keamanan dan spesialis on-chain, seperti Hacken, CertiK, dan SlowMist.

Berdasarkan data internal OKX periode Januari hingga Agustus 2026, sistem perlindungan tersebut membantu mengamankan 690.099 pengguna dengan nilai aset sekitar US$1,36 miliar (Rp24,3 triliun).

Halaman Selanjutnya

Pada periode yang sama, sistem pencegahan penipuan juga disebut membantu melindungi 55.570 pengguna dan mencegah potensi kerugian senilai US$36,5 juta (Rp654 miliar).