Jumat, 16 Oktober 2026 - 19:38 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Rupiah anjlok 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp18.027 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.938 per dolar AS.

Baca Juga

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuabi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih dapat berlanjut hingga akhir Oktober 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, nilai tukar rupiah berpotensi mencapai Rp18.500 per dolar AS jika persoalan domestik dan tekanan di pasar keuangan tidak segera teratasi.

Baca Juga

“Hari ini rupiah sudah di Rp18.060. Ada kemungkinan besar sampai akhir Oktober kalau seandainya permasalahanpermasalahan ini tidak bisa terselesaikan, kemungkinan besar akan ke Rp18.500,” ujar Ibrahim dalam voice yang diterima Viva, Jumat (16/10/2026).

Ibrahim menilai dinamika politik dalam negeri menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Baca Juga

Ia menyoroti meningkatnya ketegangan politik, termasuk polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang dinilai berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kondisi Indonesia.

“Kita lihat bahwa kondisi perpolitikan saat ini terus memanas, pascamasalah ijazah Gibran, ini membuat kondisi politik memanas, partai-partai politik sedikit gerah. Ini yang memicu sebenarnya rupiah kembali mengalami pelemahan,” kata Ibrahim.

Selain perkembangan politik, Ibrahim menilai sentimen negatif dari pasar modal turut menambah tekanan terhadap rupiah.

Hal ini menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Rencana tersebut muncul di tengah kekhawatiran investor global mengenai transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang tidak wajar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski keputusan mengenai perubahan klasifikasi pasar Indonesia baru akan diumumkan pada atau sebelum 30 Juni 2027, pengumuman MSCI telah memicu gejolak di pasar keuangan domestik.

Tekanan tersebut terlihat ketika perdagangan saham di BEI sempat dihentikan sementara atau mengalami trading halt selama 30 menit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penghentian dilakukan setelah IHSG dibuka pada level 5.393, turun sekitar 8 persen dari penutupan sebelumnya di posisi 5.863.

Menurut Ibrahim, ketidakpastian mengenai status pasar modal Indonesia berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan meningkatkan risiko di pasar keuangan.

Halaman Selanjutnya

Ia menjelaskan, sejumlah persoalan yang menjadi perhatian MSCI berkaitan dengan agenda reformasi pasar modal, terutama transparansi struktur kepemilikan saham dan porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik atau free float.