asiawebawards.com
  • 2026-08-05 12:40:00 +0000 UTC

    Aug 05, 2026

    Rupiah Perkasa Usai Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Dolar AS Tertekan

    Optimisme investor meningkat setelah Qatar menyatakan para mediator telah mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri perang, sehingga mendorong penurunan harga minyak dunia.

    "Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Kondisi ini membuat tekanan terhadap dolar AS berkurang dan mendorong investor kembali masuk ke aset negara berkembang, termasuk rupiah," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (5/8/2026).

    Baca Juga: Kurs Dolar AS ke Rupiah Hari Ini 4 Agustus 2026: Cek Update USD IDR Terbaru di BCA, Mandiri, dan BNI

    Menurut Ibrahim, sentimen positif tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani membahas upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran melalui sambungan telepon.

    Meski Trump sebelumnya menyebut negosiasi dengan Iran telah dimulai, pemerintah Iran kembali menegaskan belum ada pembicaraan resmi yang berlangsung. Kendati demikian, pasar tetap merespons positif peluang tercapainya penyelesaian konflik yang lebih permanen.

    Di sisi lain, pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sederet data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

    "Investor menunggu data ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls akhir pekan ini. Bila data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin berkurang sehingga memberi ruang bagi dolar AS untuk kembali melemah," ujar Ibrahim.

    Ia menjelaskan, konsensus pasar memperkirakan penambahan tenaga kerja sektor swasta versi ADP pada Juli hanya mencapai 70.000 orang, turun dibandingkan 98.000 pekerjaan yang tercipta pada Juni. Perlambatan tersebut dinilai dapat memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda.

    Sementara dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).

    Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi mayoritas ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya berada pada kisaran 4,8%-4,9%. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.

    Baca Juga: Rupiah DItaksir melemah ke Rp18.040 Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS

    Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Indonesia juga meningkat 3,73% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/Q-to-Q). Adapun secara kumulatif semester I/2026, ekonomi tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Data tersebut sekaligus mematahkan kekhawatiran pasar yang sebelumnya memperkirakan ekonomi domestik akan mengalami perlambatan akibat tingginya biaya produksi, ketidakpastian global, kebijakan moneter yang masih ketat, hingga tekanan terhadap belanja pemerintah.

    "Data pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah di tengah ketidakpastian global," kata Ibrahim.

    Selain itu, inflasi yang tetap terkendali juga menjadi faktor pendukung stabilitas pasar keuangan. Sebelumnya, BPS melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, sementara inflasi tahunan tercatat sebesar 2,88%.

    Menurut Ibrahim, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang masih terkendali, dan mulai meredanya tekanan eksternal menjadi modal positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

    Pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), rupiah ditutup menguat 93 poin menjadi Rp17.934 per USD, setelah sempat menguat hingga 115 poin. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.030 per USD.

    2026-08-05 12:40:00 +0000 UTC