Jumat, 18 September 2026 - 09:35 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Baca Juga
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.753 pada Kamis, 17 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 41 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.712 pada perdagangan Rabu, 16 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 18 September 2026 hingga pukul 09.15 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.731 per dolar AS. Posisi itu menguat 22 poin atau 0,12 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.753 per dolar AS.
Baca Juga
Ilustrasi hegemoni dolar AS
Photo :
- vstory
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan komitmennya untuk menjaga keuangan negara dan memastikan APBN terus menjadi instrumen, yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus mengelola dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Baca Juga
Mengelola keuangan negara dimaksudkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Manfaat APBN bagi masyarakat dan perekonomian diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi, antara lain konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor.
Kemudian, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali mengerek suku bunga acuan tampak semakin menyempit. menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan bergulir pada 22–23 September 2026, sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis.
Langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama, mengapa BI tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI. Kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil (17.300-17.800), aliran modal asing (capital inflow) yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin, secara kolektif memperkuat ruang bagi bank sentral untuk sekadar memantau situasi tanpa perlu menarik tuas rem tambahan.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750-Rp 17.790," ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Sebagai informasi, pasar merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi, yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.