Rupiah Ditutup Melemah, Transisi Kepemimpinan BI Jadi Sorotan Pasar
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di sisi lain, meredanya konflik antara AS dan Iran mulai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
"Indeks dolar AS menguat pada perdagangan hari ini. Di sisi eksternal, pasar mulai merespons meredanya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran sehingga perhatian investor kembali tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat," kata Ibrahim dalam risetnya, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Menko Airlangga Pastikan Transisi di BI Tak Ganggu Stabilitas Rupiah
Menurut Ibrahim, laporan The New York Times yang menyebut Presiden AS Donald Trump menghentikan rencana eskalasi operasi militer terhadap Iran menjadi sentimen positif bagi pasar. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan keterbatasan persediaan sistem pertahanan udara Pentagon.
Sebelumnya, konflik kedua negara berlangsung selama hampir dua pekan. Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Teheran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan bermula setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi minyak dunia.
Meski demikian, pasar masih mencermati agenda kebijakan moneter AS. Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan ini. Namun, investor tetap menunggu pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh sinyal mengenai arah suku bunga pada bulan-bulan berikutnya.
Baca Juga: Perdana Menghadap Presiden Prabowo, Pj Gubernur BI Destry Pastikan Rupiah Tetap Jadi Prioritas
Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data penting ekonomi AS, mulai dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II hingga data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneternya.
Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim menilai pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia sempat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan terhadap rupiah, arus keluar dana asing (capital outflow), serta potensi tingginya suku bunga global.
"Pengunduran diri Perry Warjiyo sempat direspons negatif oleh pasar karena meningkatkan ketidakpastian pada masa transisi kepemimpinan Bank Indonesia. Namun, penunjukan Destry Damayanti memberikan optimisme bahwa komitmen menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan sistem keuangan akan tetap berlanjut," ujar Ibrahim.
Ia menilai perhatian investor kini akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif. Sosok yang dipilih pemerintah dinilai akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap kredibilitas dan independensi bank sentral.
"Pasar berharap proses penunjukan Gubernur BI definitif berjalan lancar dan menghasilkan figur yang memiliki kredibilitas tinggi sehingga mampu menjaga independensi bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter," katanya.
Ibrahim menambahkan, proses suksesi tersebut sepenuhnya mengikuti mekanisme konstitusional yang berlaku. Ia meyakini pemerintah bersama otoritas terkait akan menetapkan figur terbaik untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di tengah dinamika tersebut, lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings juga menilai pengunduran diri Perry Warjiyo belum memberikan dampak langsung terhadap peringkat utang Indonesia.
Sovereign Analyst S&P Global Ratings Rain Yin kepada Bloomberg menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut tidak memengaruhi sovereign rating Indonesia, meski dapat meningkatkan risiko terhadap prospek arah kebijakan ke depan.
Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 26 poin ke level Rp17.962 per USD, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 95 poin.