Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang siswi kelas 12 Alexandra Christy Untono, mengembangkan rumput purun menjadi produk bernilai tambah seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori hingga kebutuhan rumah tangga lain.
Rumput purun yang mudah tumbuh di lahan basah seperti rawa diolah menjadi bahan anyaman sehingga bisa dibuat menjadi berbagai kerajinan tangan.
Dalam keterangan tertulis Climate Catalyst, Alexandra mengatakan pemanfaatan purun sebagai material produk bernilai ekonomi diharapkan dapat mempertemukan kepentingan pelestarian lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada lanskap tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh," ujar Alexandra.
Purun selama ini telah dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan anyaman. Tanaman tersebut dapat dipanen dalam siklus sekitar tiga hingga enam bulan.
Alexandra mengatakan karakter purun tersebut membuka peluang untuk mengembangkan model ekonomi yang memberikan nilai lebih tinggi terhadap material lokal sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat yang memiliki keterampilan mengolahnya.
Libatkan 126 perajin di 15 desa
Alexandra mengembangkan kerajinan berbahan dasar purun ini melalui sebuah Gaia Weave didirikan Alexandra pada 2025 setelah ia mengunjungi Kalimantan Selatan.
Gaia Weave merupakan wirausaha sosial yang memanfaatkan purun (Lepironia articulata), tanaman yang banyak tumbuh di lingkungan lahan basah, termasuk kawasan rawa dan gambut di Kalimantan Selatan.
Saat itu, ia melihat adanya kesenjangan antara keterampilan perajin purun dengan akses terhadap pasar yang konsisten dan bernilai tambah.
Ia kemudian mengembangkan model usaha dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal sebelum dikembangkan menjadi berbagai produk.
Saat ini 126 perajin yang tersebar di 15 desa di Kalimantan Selatan digandeng menjadi mitra. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6.000 unit per bulan dan tersebar di sekitar 100 ritel.
Dari sisi ekonomi, kemitraan tersebut diklaim meningkatkan pendapatan perajin sekitar 100 hingga 150 persen.
Pendapatan yang sebelumnya berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan meningkat menjadi sekitar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Bagi perajin yang juga bekerja sebagai petani, kegiatan menganyam dapat dilakukan dari rumah sehingga menjadi sumber pendapatan tambahan.
Salah satu perajin Idang mengatakan sebelumnya ia mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
Setelah bergabung ia tetap bekerja di ladang dan menganyam purun setelah pulang ke rumah. Dari kegiatan tersebut, ia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
"Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang," ujar Idang.
Dorong ekonomi sirkular
Menurut Alexandra, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan material yang digunakan dalam sebuah produk. Ia menilai aspek kesejahteraan masyarakat yang berada dalam rantai pasok juga menjadi bagian penting.
"Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil," katanya.
Ia berharap pengembangan purun sebagai material produk modern dapat memperluas nilai ekonomi tanaman lokal sekaligus menjaga keterhubungan masyarakat dengan lingkungan tempat material tersebut berasal.
Alexandra kini berupaya memperluas edukasi mengenai material berkelanjutan, keterampilan perajin dan ekonomi sirkular melalui berbagai kanal digital. Ia menargetkan perluasan jaringan hingga lebih dari 1.000 perajin pada 2030.
Selain memperluas jaringan perajin, Gaia Weave juga membidik pengembangan kemitraan business to business (B2B) dengan sektor perhotelan premium internasional serta pasar ekspor.
Perusahaan tersebut juga berencana mengembangkan sistem ketertelusuran berbasis QR. Sistem ini nantinya memungkinkan konsumen mengetahui perjalanan produk, termasuk informasi mengenai perajin dan lanskap asal material.
Alexandra mengatakan tujuan Gaia Weave bukan sekadar menghasilkan produk berbahan purun, melainkan menunjukkan bahwa inovasi material dapat menjadi penghubung antara kebutuhan pasar modern, kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
(sur)