Rumah AI Indonesia siapkan USD 15 juta bidik 300 paten dan AI masuk desa
Sabtu, 29 Agustus 2026 21:14 WIB
Dari kiri: Felix Pasila, Arman Hakim Nasution, Phillip Tam ( First Bullion Holding Hk), dan Simon Zhang ( 2Uchat Technology - Australia). ANTARA/Ist
Yogyakarta (ANTARA) - PT Indonesia Kecerdasan Artifisial Network (i-KAN) resmi menghadirkan ekosistem Rumah AI Indonesia dengan menyiapkan dana hingga 15 juta dolar AS untuk mempercepat lahirnya inovasi kecerdasan buatan sekaligus perlindungan hak kekayaan intelektual karya anak bangsa.
Inisiatif yang diawali pendanaan sebesar 1 juta dolar AS ini menargetkan penggalangan dana bertahap dalam 36 bulan melalui kolaborasi mitra nasional dan internasional, termasuk rencana kerja sama dengan perusahaan yang tercatat di bursa Hong Kong.
Pada tahun pertama operasinya, i-KAN membidik pendampingan serta pendaftaran 150 hingga 300 paten inovasi teknologi dari para inventor, akademisi, dan pengembang nasional guna memperkuat kepemilikan paten Indonesia.
Indonesia memiliki populasi yang besar dan merupakan pasar penting bagi berbagai teknologi AI global, namun, besarnya pasar tersebut harus diimbangi dengan kemampuan Indonesia menjadi pencipta, pemilik IP dan produsen teknologi AI.
Guna mempermudah proses sertifikasi dan perlindungan hak cipta bagi para peneliti maupun pengembang, ekosistem ini didukung oleh aplikasi Paten.ai karya Felix Pasila untuk membantu inventor, developer, akademisi, peneliti, startup dan pemilik Intellectual Property memahami potensi inovasi mereka serta pentingnya perlindungan IP dan paten dengan bantuan teknologi AI.
Selain itu, Rumah AI Indonesia menargetkan pembentukan 50 Pusat Unggulan AI dan Hak Kekayaan Intelektual di berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia guna mendorong integrasi riset kampus secara berkesinambungan.
Program tersebut akan menyasar perguruan tinggi yang memiliki program studi, pusat riset, laboratorium maupun sumber daya manusia di bidang AI, teknologi informasi, engineering, bisnis digital, blockchain dan Intellectual Property.
Melalui sinergi bersama Asosiasi Dosen Integrator Desa (ADIDES) yang dipimpin dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Arman Hakim Nasution, pemanfaatan teknologi AI dipastikan tidak hanya terpusat di kota besar, melainkan juga menyasar sektor produktif pedesaan seperti UMKM dan pertanian.
Untuk memperluas komersialisasi ke pasar internasional, lembaga ini merangkul jaringan Diaspora Indonesia yang memiliki pengalaman di pusat-pusat teknologi dunia.
Direktur Utama i-KAN Agustino Wibisono menegaskan kehadiran Rumah AI Indonesia bertujuan agar bangsa Indonesia mampu berpartisipasi aktif sebagai pencipta dan pemilik teknologi AI dunia, bukan sekadar menjadi pasar konsumen semata.
“Kita ingin mengatakan kepada developer, inventor, mahasiswa, dosen, peneliti dan startup Indonesia: Anda tidak perlu berjalan sendiri. Bawa karya Anda ke Rumah AI Indonesia. Kita bangun, lindungi dan kembangkan bersama," katanya.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026