Padang (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sebagai rumah sakit rujukan menyiapkan strategi untuk menguatkan sistem pengendalian infeksi dan penanggulangan resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).
Hal itu dikatakan oleh Direktur RSUP M Djamil Padang Dovy Djanas usai membuka acara Simposium pengendalian infeksi dan antimikroba di rumah sakit, sekaligus penandatanganan kerjasama pengendalian infeksi dan antimikroba dengan rumah sakit jejaring di Padang, Sabtu.
"Resistansi antimikroba kini adalah tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara berkelanjutan, terutama bagi rumah sakit," katanya.
Ia menjelaskan AMR merupakan masalah yang bisa ditangani satu rumah sakit saja, karena pasien dengan infeksi resisten dapat berpindah-pindah antar fasilitas.
Sehingga dalam melakukan penanganan, khususnya di Sumbar, perlu pendekatan berbasis jejaring rumah sakit dan kesehatan masyarakat.
Ia mengatakan RSUP Djamil yang merupakan rumah sakit milik pemerintah memiliki posisi penting karena merupakan salah satu rumah sakit rujukan utama di Sumbar.
Pihaknya bertekad mengatasi masalah AMR lewat program dengan konsep “AMR Sumbar Network" yang juga membutuhkan dukungan dari Dinas Kesehatan Sumbar.
Dalam program tersebut RS M Djamil memproyeksikan diri selaku sentra AMR, lalu melakukan kolaborasi dengan rumah sakit jejaring yang ada di seluruh Sumbar.
Rumah sakit jejaring secara bertahap perlu mempunyai Tim PRA/PGA aktif, tim PPI aktif, data kultur dan AST, antibiogram rumah sakit, data penggunaan antibiotik, panduan antibiotik berbasis data lokal, audit penggunaan antibiotik, dan pelaporan serta pembelajaran bersama.
Lewat program itu RS M Djamil ingin menjadi pusat keunggulan dalam pengendalian resistensi AMR (Sentra regional terhadap Excellence for antimicrobial resistance control) di Sumatera Barat.
"Pengendalian itu dilakukan dengan menguatkan surveilans, laboratorium, antimicrobial stewardship, infection prevention and control, serta pengampuan rumah sakit jejaring," katanya.
Dovy menyatakan proyeksi yang dibangun tersebut adalah mewujudkan komitmen bersama dalam menguatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya pencegahan dan pengendalian infeksi serta penanggulangan resistansi AMR.
Menurut dia AMR adalah masalah sistim kesehatan, sehingga M Djamil bersama Dinas Kesehatan Sumbar perlu membangun jejaring yang mampu mengubah data menjadi tindakan, tindakan menjadi perbaikan, dan perbaikan menjadi budaya penggunaan antimikroba yang bijak.
Kegiatan simposium itu dihadiri oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya selaku pembicara kunci pengendalian infeksi dan antimikroba.
Selain itu juga dihadiri oleh Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan Bayu Teja Muliawan selaku narasumber simposium, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dan lainnya.