Malang Raya (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, Kota Malang, Jawa Timur menyiapkan langkah percepatan pemulihan layanan permakanan atau konsumsi bagi pasien rawat inap melalui normalisasi ruang dapur gizi yang terbakar pada Rabu sore.
Direktur RSSA Malang dr Mochamad Bachtiar Budianto saat sesi konferensi pers di Gedung Manajemen Terpadu (GMT) rumah sakit setempat, mengatakan, tahapan yang disiapkan tetap memperhatikan kesesuaian dengan regulasi berlaku.
"Tentu nanti terdapat sistem yang tidak melanggar aturan dalam rangka percepatan, akan ada pembangunan atau renovasi agar layanan makanan untuk pasien dapat normal kembali," kata Bachtiar.
Ia menyatakan, lantaran dapur gizi saat ini mengalami kerusakan hingga ke bagian atap akibat terbakar, maka seluruh layanan permakanan bagi pasien sementara waktu menggunakan katering.
Menurutnya, langkah yang diambil bersifat prioritas karena untuk menjamin kebutuhan gizi pasien tetap tercukupi.
Bachtiar menyampaikan penggunaan katering untuk makanan pasien rawat inap akan dilakukan selama satu minggu ke depan.
"Langkah shortcut yang tentu tidak melanggar aturan sudah kami siapkan dan tadi makanan sudah terpenuhi," ujarnya.
Selain ruang gizi, kebakaran di rumah sakit tersebut juga berdampak ke area ruang laundry.
Manajemen RSSA Malang memastikan bahwa lokasi terdampak sepenuhnya telah dilakukan pembatasan akses sehingga tak bisa lagi dijangkau sembarang orang. Terlebih kepolisian setempat sudah memasang police line.
Sementara itu, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSSA Malang Kurniawan Hary Putranto, menjelaskan, tahapan pemulihan ruangan terdampak kebakaran dibarengi asesmen kelayakan konstruksi bangunan.
"Saya rasa perbaikan yang memungkinkan sekitar dua bulan," katanya.
Kurniawan menyampaikan beberapa alat di ruang dapur gizi harus dilakukan rekondisi karena saat kebakaran terjadi kondisinya sempat tertimpa reruntuhan genting bangunan.
"Butuh waktu melakukan kredensialisasi dan sertifikasi ulang untuk kelayakan," ucapnya.
Di tempat yang sama, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Perawatan dr Syaifullah Asmiragani, menjelaskan, ketika kepulan asap muncul pihaknya langsung mengaktifkan kode merah atau tanda kedaruratan, dengan situasi itu tim medis mengevakuasi pasien anak yang lokasi perawatannya berada di sekitar area terdampak untuk mencegah paparan karbon monoksida.
"Kami evakuasi ke titik kumpul yang dekat dengan gedung ini (GMT), lalu melakukan skrining dan evaluasi kondisi pasien untuk memastikan tidak ada kegawatan," katanya.
Dia bersama tim keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga mengevaluasi perkembangan situasi di ruang perawatan anak, namun masih tercium sisa asap kebakaran.
Tak mau mengambil resiko, manajemen RSSA Malang memindahkan lokasi rawat inap pasien anak ke area Grand Paviliun untuk sementara waktu.
"Mungkin butuh waktu satu sampai dua hari sampai asap benar-benar hilang dari tempat pelayanan," katanya.
Kebakaran fasilitas milik RSSA Malang tak sampai menimbulkan korban jiwa.
Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.