Rindu di balik asap, sisi lain perjuangan keluarga petugas karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 12:38 WIB

Image Print

Dimas Pradinata bersama istri dan anak tercinta. (ANTARA/HO)

Bagi keluarga petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan, ada banyak hal yang harus ditunda ketika penugasan berlangsung berminggu-minggu, termasuk merayakan hari ulang tahun bersama. Di tengah kesibukan memadamkan api, para petugas menyimpan kerinduan mendalam kepada keluarga yang menanti kepulangan mereka di rumah.

Bagi Tamara Septriani, salah satu bagian paling berat ketika suaminya harus bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan adalah menjawab pertanyaan anak mereka: “Kapan Papa pulang? Kapan bisa jalan-jalan bersama Papa?” Pertanyaan yang terdengar sederhana itu tidak selalu mudah dijawab, terutama ketika pekerjaan suaminya belum memungkinkan untuk kembali ke rumah.

Suaminya, Dimas Pradinata (32), merupakan Forest Management (FM) Distrik Bagan Rame, PT Bumi Andalas Permai. Selama 12 tahun bekerja dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dimas terbiasa menghadapi penugasan yang mengharuskannya meninggalkan keluarga dalam waktu lama. Tamara pun telah memahami konsekuensi pekerjaan tersebut, bahkan sejak sebelum mereka menikah.

Namun, terbiasa bukan berarti tidak pernah merasa kehilangan. Ketika Dimas berada di lapangan, Tamara harus mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga dan mendampingi anak tanpa kehadiran suami. Tidak ada lagi teman berbagi cerita secara langsung setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Ada pula keinginan anak untuk bermain atau bepergian bersama sang ayah yang harus terpaksa ditunda.

“Yang paling berat adalah ketika anak bertanya kapan Papa bisa pulang, kapan bisa jalan-jalan bersama Papa. Biasanya ada suami yang membantu dan menjadi tempat bercerita, tetapi ketika beliau bertugas, saya harus mengurus semuanya sendiri, termasuk menjaga dan mendampingi anak,” kata Tamara, Minggu (25/10/2026).

Salah satu momen yang paling membekas bagi Tamara adalah ketika keluarga harus berjauhan pada hari ulang tahun. Saat orang lain dapat merayakannya bersama keluarga lengkap, mereka harus menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum memungkinkan Dimas berada di rumah.

“Di hari ulang tahun, di saat semua orang ingin merayakan, di sisi lain kami harus berjauhan,” ungkapnya.

Tamara berusaha menjelaskan kepada sang anak bahwa ayahnya sedang bekerja membantu memadamkan kebakaran. Ia juga mengajak anak berdoa agar Dimas selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Meski demikian, ada saat-saat ketika anak belum sepenuhnya dapat memahami mengapa ayahnya begitu sulit dihubungi.

Menurut Tamara, komunikasi yang terputus bukanlah sesuatu yang baru dalam pekerjaan suaminya. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan tersebut, ia mulai terbiasa. Namun, bagi sang anak, ketidakmampuan menghubungi ayah tetap menjadi persoalan yang sulit dimengerti.

Dua belas tahun berjibaku

Di lapangan, Dimas memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Selama 12 tahun bekerja dalam penanganan karhutla, salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatur personel dan memastikan setiap tim dapat menjalankan tugas dengan baik hingga api benar-benar padam.

Menurut Dimas, keberhasilan pemadaman tidak hanya bergantung pada kemampuan menghadapi api. Kondisi medan yang sulit, koordinasi antaranggota tim, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi faktor penting dalam setiap operasi.

“Pengalaman paling berat adalah setiap pemadaman harus mengatur personel dan masing-masing tim agar tujuan yang ingin kita dapatkan, yaitu api padam total, berjalan dengan lancar,” kata Dimas.

Di tengah tanggung jawab tersebut, Dimas mengaku selalu berusaha menjaga semangat dengan mengingat tujuan awalnya bekerja. Keluarga, mulai dari orang tua, istri, hingga anak, menjadi alasan utama untuk terus menjalankan pekerjaan meskipun harus berjauhan.

Ia bersyukur keluarganya sangat memahami tuntutan pekerjaannya. Bahkan, sebelum menikah, Tamara sudah mengetahui bahwa ketika Dimas tidak dapat dihubungi, kemungkinan besar ia sedang berada di lokasi pemadaman.

Dimas juga mengaku tidak pernah merasa takut tidak dapat kembali pulang selama menjalankan tugas. Ia memilih berpegang pada keyakinan bahwa niat baik, doa, dan kehati-hatiandan akan senantiasa menyertai pekerjaannya.

Bagi Dimas, salah satu momen paling membahagiakan bukanlah sekadar ketika api berhasil dipadamkan, melainkan ketika seluruh anggota tim dapat menyelesaikan pekerjaan dengan selamat.

“Saat api padam total, tim semua selamat dan sehat, peralatan pemadam lengkap, dan seluruh tim bisa pulang bersama-sama,” ujarnya.

Dimas saat berjibaku memadamkan karhutla. (ANTARA/HO)

Setelah menyelesaikan tugas, Dimas tidak memiliki keinginan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin segera bertemu istri dan anak, memeluk mereka, lalu menikmati masakan Tamara bersama keluarga tercinta.

“Yang paling saya rindukan adalah pelukan anak saya, kumpul bersama keluarga kecil saya. Pertama kali saya pulang akan peluk anak istri, dan makan masakan istri bersama keluarga,” katanya.

Sebulan tak ada kabar

Kisah keluarga Dimas memiliki kesamaan dengan pengalaman Qodri Alfin Syahri (27), anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT SBA Wood Industries, Distrik Kuala Lumpur. Selama dua tahun bekerja sebagai petugas pemadam karhutla, Qodri telah menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari kepungan asap pekat hingga kondisi angin yang sulit diperkirakan.

Menurut Qodri, perubahan arah angin mendadak merupakan salah satu risiko tinggi yang harus diwaspadai. Ia juga pernah menghadapi kondisi asap sangat pekat ketika perlindungan diri yang tersedia dirasakannya belum memadai.

Meski demikian, Qodri berusaha menjalankan pekerjaannya dengan mengacu pada prosedur operasional dan mengutamakan keselamatan. Baginya, tanggung jawab terhadap pekerjaan menjadi alasan untuk tetap bertahan ketika tubuh mulai lelah.

“Yang pasti berat, tetapi namanya menjalankan tugas, kita tetap harus meninggalkan keluarga demi menjaga langit tetap biru dan udara tetap segar,” tuturnya.

Di rumah, M. Syahri (53), ayah Qodri, amat memahami bahwa pekerjaan putranya mengandung risiko tinggi. Ada rasa sedih ketika Qodri harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, ia juga merasa bangga karena anaknya menjalankan pekerjaan mulia yang bermanfaat bagi banyak orang.

Salah satu pengalaman paling berat bagi Syahri adalah ketika ia tidak dapat menghubungi putranya selama lebih dari satu bulan akibat kendala jaringan seluler. Dalam kurun waktu tersebut, ia tidak mengetahui secara langsung bagaimana keadaan Qodri di lokasi penugasan yang terpencil.

“Pernah, ketika anak saya terkendala jaringan seluler selama satu bulan lebih. Di situ saya merasa khawatir dan selalu berdoa semoga selalu dalam lindungan Allah SWT,” ungkap Syahri.

Sebagai orang tua, Syahri menyadari bahwa ia tidak selalu dapat mendampingi anaknya secara langsung. Setiap kali Qodri berangkat bertugas, ia hanya dapat memberikan nasihat dan mendoakan keselamatannya.

Bagi Qodri sendiri, kepulangan memiliki makna yang sangat sederhana. Setelah berhari-hari bekerja jauh dari keluarga, hal yang paling ingin dilakukannya adalah segera bertemu orang tua dan mencium tangan mereka.

“Rindu ketika melihat orang tua, mencium kedua tangan kedua orang tua,” katanya.

Syahri mengaku selalu merasa senang sekaligus terharu ketika Qodri akhirnya kembali, meskipun dalam keadaan fisik yang lelah. Ia hanya berpesan agar putranya senantiasa mengingat ibadah dan doa selama menjalankan tugas di lapangan.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan sering kali membutuhkan waktu panjang, terutama ketika kondisi medan sangat sulit dan kebakaran terjadi di berbagai titik secara bersamaan. Bagi para petugas, pekerjaan baru benar-benar selesai ketika situasi telah terkendali dan seluruh anggota tim dapat kembali dengan selamat.

Namun, bagi keluarga yang menanti di rumah, penugasan panjang juga berarti banyak kesempatan kebersamaan yang terlewatkan. Ada hari ulang tahun yang tidak dapat dirayakan bersama, keinginan anak untuk berjalan-jalan dengan ayah yang harus ditunda, serta waktu berkumpul dengan orang tua yang semakin terbatas.

Pengalaman Tamara dan Syahri memperlihatkan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan para petugas karhutla. Mereka memang tidak ikut berada di garis depan pemadaman, tetapi harus menyesuaikan kehidupan sehari-hari dengan dinamika tuntutan pekerjaan anggota keluarganya.

Bagi Tamara, yang paling penting bukanlah seberapa cepat Dimas menyelesaikan pekerjaan, melainkan bagaimana suaminya dapat menjalankan tugas dengan baik tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan diri. Ia sangat menghargai tanggung jawab yang telah dijalankan Dimas selama bertahun-tahun dan berharap mereka senantiasa memiliki banyak kesempatan untuk menikmati kebersamaan keluarga.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang banyak kepada suami karena sudah mampu bertahan sampai sejauh ini. Kami mungkin tidak mendampingi dan melihat dirimu saat bekerja, tapi percayalah doa kami selalu menyertaimu,” ujarnya.

Tamara juga menitipkan satu pesan penting yang ingin selalu diingat oleh suaminya.

“Jangan lupa jaga kesehatan dan keselamatanmu. Tidak ada hal yang lebih penting kecuali kepulanganmu di sini. Kami selalu menunggu kehadiranmu,” katanya.

Bagi Dimas, kepulangan berarti bisa kembali memeluk anak dan istrinya dengan hangat. Sementara bagi Qodri, pulang berarti kembali bertemu sang ayah dan mencium tangan orang tua yang selama ini tak pernah putus mendoakannya.

Setiap penugasan tentu memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun, bagi keluarga para pejuang kemanusiaan ini, ada satu hal yang tidak pernah berubah: mereka selalu menunggu kabar bahwa pekerjaan telah selesai dan orang yang dicintai dapat kembali ke rumah dengan selamat.

Di rumah, Tamara masih menyimpan banyak harapan dan waktu yang ingin dihabiskan bersama Dimas serta anak mereka, termasuk merayakan hari-hari istimewa yang sebelumnya sempat terlewatkan karena tugas negara.(***)