Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi dunia tengah dalam periode pemburukan. Arah kemajuan ekonomi tak lagi tidak menentu, melainkan sudah tak lagi bisa diprediksi.
Hal ini diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta dalam acara Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026).
"Kalau dulu dikatakan ada ketidakpastian itu masih mending, itu masih bisa diperkirakan, tapi saat ini bukan uncertainty tapi unpredictability," kata Filianingsih.
Ia mengatakan, bacaan terhadap arah kondisi ekonomi dunia ini pun telah mencuat dalam forum G20 yang digelar beberapa waktu lalu. Penyebabnya, perang di berbagai belahan dunia yang tak kunjung mereda.
"Saya baru pulang dari G20, di sana dikatakan dunia tidak baik-baik saja. Tantangan atau gejolak global masih tinggi, Perang di Timur Tengah masih menghantui perekonomian dunia," ujarnya.
Menurut Filianingsih, ketika arah ekonomi dunia tak lagi bisa diprediksi, maka tidak ada satupun yang tahu bagaimana titik terang stabilitas bisa diperkirakan bisa terjadi.
"Jadi enggak bisa diprediksi mau ke mana ini, ibaratnya kalau di Jakarta, ada bajaj kita enggak tahu bajajnya mau ke kanan atau kiri, yang tahu hanya supir bajajnya dan tuhan," tegas Filianingsih.
Meski begitu, Fili memastikan, BI sebagai otoritas moneter yang diberi mandat konstitusi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, sistem keuangan, hingga mendorong pertumbuhan, akan terus menavigasi arah ekonomi Indonesia sesuai target pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Di BI kita punya mandat stabilkan nilai tukar rupiah, sistem pembayaran, dan sistem keuangan, serta dorong pertumbuhan ekonomi, dan ini yang kita lakukan, jadi kita terapkan bauran kebijakan kita," tegas Fili.
Dengan stabilitas ekonomi yang terbukti terjaga pada kuartal II-2026 dengan pertumbuhan 5,29%, melanjutkan laju pertumbuhan kuartal I-2026 yang sebesar 5,6%, Fili meyakini ekonomi sampai akhir tahun bisa tumbuh hingga 5,7%.
"Kita lihat dan kita yakini ke depan ini akan terus meningkat, pertumbuhan itu diperkirakan 2026 antara 4,9-5,7%, sementara inflasi tetap di sasaran BI 2,5% plus minus 1%," ujar Filianingsih.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]