RI berhasil operasi janin terbuka pertama guna atasi kelainan bawaan

Kamis, 27 Agustus 2026 20:17 WIB

Image Print

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono bersama keluarga pasien yang menjalani bedah janin terbuka pertama di Indonesia untuk menangani myelomeningocele. ANTARA/HO - Kemenkes

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, Indonesia mencatat terobosan penting dalam layanan kesehatan ibu dan anak nasional dengan berhasilnya bedah janin terbuka pertama untuk menangani myelomeningocele, salah satu bentuk terberat dari spina bifida atau kelainan bawaan tulang belakang.

Tindakan tersebut dilakukan oleh tim multidisiplin RSAB Harapan Kita sebagai National Center for Women and Children’s Health bersama tim Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia.

“Ini adalah operasi pertama di Indonesia, fetal open surgery, artinya operasi janin secara terbuka ketika masih berada di dalam kandungan. Ini merupakan terobosan yang luar biasa dan semuanya dilakukan oleh dokter-dokter Indonesia,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.

Dia menjelaskan, myelomeningocele merupakan kelainan bawaan pada tulang belakang dan sistem saraf yang terjadi ketika tulang belakang dan jaringan saraf tidak menutup dengan sempurna selama perkembangan janin.

Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf, kelumpuhan, gangguan fungsi kandung kemih dan usus, serta meningkatkan risiko terjadinya hidrosefalus.

Kelainan tersebut dapat dideteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) fetomaternal. Setelah diagnosis ditegakkan dan melalui serangkaian pemeriksaan serta skrining, termasuk skrining kelainan genetik, pasien dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan tindakan bedah janin sesuai indikasi medis.

Pada open fetal surgery, ibu mendapatkan anestesi dan dilakukan pembukaan rahim secara terkontrol. Janin kemudian diakses melalui rahim untuk dilakukan perbaikan pada kelainan myelomeningocele. Setelah tindakan selesai, janin dikembalikan ke dalam rahim, kemudian rahim ditutup kembali dan ditempatkan kembali ke dalam tubuh ibu.

Prof. Dante menegaskan bahwa keberhasilan operasi ini menunjukkan Indonesia telah memiliki kemampuan sumber daya manusia dan teknologi untuk melakukan layanan kedokteran yang sebelumnya banyak dilakukan di luar negeri.

“Teknologinya sudah luar biasa, skill dokter-dokter kita di Indonesia juga sudah mampu. Ini menjadi kado 17 Agustus bagi dunia kedokteran Indonesia bahwa kita sudah bisa melakukan fetal open surgery pada bayi pertama Indonesia,” ujar Prof. Dante.

Pihaknya pun berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, penguatan jejaring rujukan, kolaborasi internasional, serta pemerataan layanan lanjutan agar semakin banyak masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas tanpa harus berobat ke luar negeri.

Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, mengatakan, tindakan perbaikan sejak masih dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk hidrosefalus.

Dia menambahkan, keberhasilan tindakan sangat bergantung pada kolaborasi berbagai disiplin, mulai dari dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, hingga tenaga penunjang lainnya.

Keberhasilan tindakan tersebut juga didukung oleh kolaborasi dengan Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Maternal Fetal Medicine, Dr. Glenn Radford, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut dibangun dengan tujuan bersama untuk meningkatkan luaran kesehatan anak dengan spina bifida.

Kolaborasi antara tim Indonesia dan Australia diharapkan terus berlanjut untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan fetal surgery secara mandiri, dengan tetap menempatkan keselamatan ibu dan bayi sebagai prinsip utama.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dr. Azhar Jaya, menyampaikan bahwa pengembangan layanan kedokteran berteknologi tinggi juga didukung melalui transformasi manajemen rumah sakit pemerintah.

“Uang kelebihan daripada RSAB ini akan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk pelatihan dan pengampuan,” ujar dr. Azhar Jaya.

Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, menegaskan bahwa pengembangan terapi janin merupakan bagian dari perjalanan panjang RSAB Harapan Kita sebagai pusat kesehatan ibu dan anak nasional. Setelah tim dari Australia kembali ke negaranya, RSAB Harapan Kita ditargetkan mampu melanjutkan layanan tersebut secara mandiri.

“Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya dan juga menularkan kemampuan ini ke rumah sakit-rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal,” ujarnya.

Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026