Oleh Dr. Safriady S.sos, M.I.kom*
Jakarta (ANTARA) - Ada gagasan yang mungkin terdengar ganjil, bahkan mengusik sebagian orang, relakan Rocky Gerung bekerja untuk Istana sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Bagi sebagian pendukung pemerintah, gagasan ini mungkin terasa seperti memasukkan “orang yang selama ini mengkritik Istana” ke dalam lingkaran kekuasaan. Bagi sebagian pendukung Rocky Gerung, justru bisa muncul kekhawatiran bahwa ia akan kehilangan independensinya. Tetapi justru di situlah letak menariknya.
Demokrasi yang matang seharusnya tidak dibangun dari keseragaman suara. Demokrasi membutuhkan perbedaan pandangan, termasuk suara yang keras, kritis, bahkan tidak nyaman didengar oleh penguasa.
Baca juga: Rocky Gerung: Guru adalah rahim bangsa
Rocky Gerung selama ini dikenal sebagai salah satu intelektual publik yang kritis terhadap pemerintah. Gaya komunikasinya tajam, argumentatif dan sering kali kontroversial. Ia tidak selalu berada dalam posisi yang menyenangkan bagi kekuasaan. Namun, politik negara tidak seharusnya hanya membutuhkan orang-orang yang selalu mengatakan “ya”.
Istana membutuhkan orang yang berani mengatakan “tidak”.
Di sinilah posisi Wantimpres menjadi penting. Lembaga penasihat presiden seharusnya bukan sekadar ruang untuk memberikan legitimasi terhadap keputusan yang sudah dibuat. Ia idealnya menjadi tempat pertukaran gagasan, pengujian kebijakan, dan penyampaian kritik sebelum sebuah keputusan negara benar-benar diambil.
Jika seluruh orang di sekitar kekuasaan memiliki pandangan yang sama, maka bahaya terbesar bukan kritik dari luar Istana. Bahaya terbesar justru groupthink di dalam Istana.
Ketika semua penasihat memiliki cara pandang yang relatif sama, keputusan pemerintah berpotensi kehilangan mekanisme koreksi internal. Data yang buruk bisa dianggap baik. Kebijakan yang bermasalah bisa terlihat benar. Kritik masyarakat bisa dianggap sebagai gangguan politik. Pada titik tertentu, kekuasaan dapat hidup dalam ruang gema yang hanya memantulkan suara sendiri.
Karena itu, menghadirkan figur seperti Rocky Gerung justru dapat menjadi eksperimen menarik bagi pemerintahan Prabowo Subianto.
Pertanyaannya bukan apakah Rocky akan berubah menjadi pendukung pemerintah. Pertanyaannya justru, apakah Istana mampu menerima seorang penasihat yang tidak selalu sependapat dengan presiden?
Baca juga: Rocky Gerung siap hadir penuhi panggilan penyidik terkait kasus berita hoaks
Menjadi penasihat presiden bukan berarti menjadi juru bicara presiden. Penasihat tidak harus selalu membela kebijakan pemerintah di ruang publik. Tugas utamanya adalah memberikan pertimbangan kepada presiden berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan penilaian yang dianggap objektif.
Dalam konteks tersebut, seorang pengkritik pemerintah justru memiliki nilai strategis.
Ia mengetahui bagaimana kebijakan pemerintah dibaca oleh kelompok kritis. Ia memahami bahasa oposisi. Ia dapat mengidentifikasi kelemahan argumentasi pemerintah sebelum kelemahan itu dieksploitasi oleh lawan politik. Ia juga dapat memberikan perspektif yang berbeda dari birokrasi dan elite politik yang sehari-hari berada di sekitar presiden.
Namun ada satu syarat penting, yaitu Rocky Gerung harus tetap menjadi Rocky Gerung.
Jangan mengangkat seorang pengkritik ke Istana hanya untuk menjinakkannya.
Jika seseorang masuk ke dalam kekuasaan kemudian kehilangan kemampuan untuk mengkritik, maka yang terjadi bukan penguatan demokrasi, melainkan kooptasi. Pemerintah mendapatkan keuntungan jangka pendek karena berhasil meredam suara kritis, tetapi negara kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: independensi pemikiran.
Sebaliknya, Rocky juga harus memahami bahwa bekerja untuk negara berbeda dengan menjadi pengamat politik di luar pemerintahan.
Ketika seseorang menerima posisi resmi dalam lembaga negara, ia memiliki tanggung jawab institusional. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus dibedakan antara kritik untuk memperbaiki kebijakan dan kritik sebagai pertunjukan politik. Informasi yang bersifat rahasia negara juga harus dihormati.
Baca juga: Relawan laporkan FB bernama Rocky Gerung yang tulis "Jokowi Rakus"
Dengan kata lain, jika Rocky masuk Wantimpres, tantangannya bukan hanya bagi Istana. Tantangannya juga bagi Rocky sendiri. Ia harus membuktikan bahwa kritik dapat menjadi bagian dari kekuasaan tanpa kehilangan daya kritisnya.
Dan pemerintah harus membuktikan bahwa kekuasaan dapat menerima kritik tanpa merasa terancam.
Jika eksperimen itu berhasil, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar masuknya satu nama ke dalam Wantimpres. Ia dapat menjadi pesan politik bahwa pemerintahan tidak alergi terhadap perbedaan pemikiran.
Bayangkan sebuah ruang rapat di Istana ketika sebagian besar penasihat mengatakan sebuah kebijakan sudah tepat, sementara Rocky mengatakan ada persoalan mendasar yang harus diperbaiki.
Presiden mungkin tidak harus mengikuti pendapat Rocky. Tetapi presiden harus mendengar argumentasinya. Itulah esensi penasihat.
Karena negara tidak membutuhkan penasihat yang selalu benar. Negara membutuhkan penasihat yang mampu membuat pemimpin melihat sesuatu yang mungkin tidak terlihat sebelumnya.
Maka, barangkali sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Jangan selalu melihat masuknya seorang kritikus ke dalam pemerintahan sebagai tanda bahwa ia telah “ditaklukkan”. Bisa jadi justru sebaliknya: kekuasaan sedang diuji apakah mampu hidup berdampingan dengan kritik.
Relakan Rocky Gerung bekerja untuk Istana. Bukan karena negara membutuhkan Rocky untuk membenarkan pemerintah.
Tetapi karena mungkin sudah saatnya Istana memiliki seseorang yang tugasnya bukan membuat pemerintah merasa nyaman, melainkan membuat pemerintah berpikir lebih keras.
Sebab kekuasaan yang kuat bukanlah kekuasaan yang tidak pernah dikritik. Kekuasaan yang kuat adalah kekuasaan yang tidak takut mendengar kritik.
Baca juga: Polisi periksa Rocky Gerung terkait Ratna Serumpaet
*Penulis adalah pemerhati isu sosial
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.