Banda Aceh (ANTARA) - Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Mirza Tabrani menyatakan pengembangan industri hilir harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani yang menjadi aktor utama dalam rantai pasok nilam.

“Tidak boleh terjadi ketimpangan antara sektor hulu dan hilir. Jika kita ingin membangun industri nilam yang berkelanjutan, petani harus memperoleh manfaat yang layak dan memiliki kepastian pasar,” katanya di Banda Aceh, Kamis.

Ia menjelaskan, USK terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, serta penyerapan minyak nilam masyarakat sehingga tercipta rantai nilai yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menurut dia, langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus mendorong peningkatan minat masyarakat untuk kembali membudidayakan nilam, sehingga penguatan sektor hilir dapat memberikan dampak langsung terhadap keberlanjutan sektor hulu.

Rektor USK menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan berbagai lembaga yang selama ini memberikan dukungan terhadap USK dalam pengembangan nilam Aceh. Pengembangan nilam merupakan bagian dari komitmen USK untuk mengintegrasikan pendidikan, penelitian, inovasi, dan hilirisasi sehingga menghasilkan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat.

Menurut dia, orientasi USK bukan hanya menghasilkan publikasi atau inovasi, tetapi bagaimana hasil riset dapat di hilirkan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat industri, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, pengembangan ekosistem nilam Aceh perlu dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Nilam tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas penghasil minyak atsiri, tetapi sebagai bahan baku strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tinggi, termasuk fine fragrance, parfum, kosmetik, dan berbagai produk turunannya.

“Nilai tambah terbesar bukan hanya berada pada bahan bakunya, tetapi pada kemampuan kita mengolah, memformulasikan, melakukan inovasi, membangun merek, dan menguasai pasar. Karena itu, USK ingin berkontribusi tidak hanya pada pengembangan teknologi produksi minyak nilam, tetapi juga pada pengembangan produk hilir dan industri parfum yang berbasis pada kekayaan hayati Aceh,” jelasnya.

Prof. Mirza menambahkan bahwa pengembangan industri parfum membutuhkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang lebih spesifik, termasuk dalam aspek formulasi dan olfactory science. 

Ia mengatakan melalui dukungan International Labour Organization (ILO), USK memperoleh kesempatan untuk memperluas jejaring dan pembelajaran dengan mitra internasional. Bahkan, dua orang dari USK telah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran mengenai pengembangan parfum di Paris.

“Untuk menghasilkan parfum premium, kita membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tidak sederhana. Merangkai berbagai notes menjadi sebuah komposisi parfum membutuhkan keahlian, pengalaman, kreativitas, dan pemahaman terhadap karakter bahan,” katanya.

Prof. Mirza juga menambahkan bahwa cita-cita menjadikan Banda Aceh sebagai kota parfum perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekosistem inovasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, perbankan, komunitas, petani, dan mitra internasional.

Ia mengatakan USK siap menjadi salah satu penggerak ekosistem tersebut melalui riset, inovasi, pendidikan, dan hilirisasi.

Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Erdiriyo Erdi, mengatakan penguatan ekosistem nilam harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak, terutama dalam menghubungkan sektor hulu, pengolahan, pembiayaan, hingga pemasaran.

“Kita ingin memperkuat nilam dari hulu sampai hilir dalam satu ekosistem. Banda Aceh dengan cita-cita menjadi kota parfum tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

Menurut Erdiriyo, pemerintah juga mendorong penguatan skema pembiayaan bagi para pelaku dalam ekosistem nilam. Peran kementerian dan lembaga, regulator, perbankan, serta berbagai institusi terkait diperlukan agar petani dan pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.

Ia mengapresiasi keterlibatan USK yang selama ini telah berperan dalam pengembangan nilam melalui Atsiri Research Center (ARC). Pengalaman USK dalam riset, inovasi, dan pembinaan dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun ekosistem nilam Aceh yang lebih terintegrasi.

Sementara itu, Project Manager Promise II Impact ILO Jakarta, Djauhari Sitorus, mengatakan kehadiran ILO dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi program untuk meningkatkan inklusi keuangan dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi UMKM, termasuk petani.


Baca juga: Tim PKM-K USK raih pendanaan nasional dari inovasi nilam

Pewarta: M Ifdhal
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.