Banyuwangi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memberikan insentif kepada ratusan guru rohani sebagai upaya dukungan untuk memperkuat pendidikan karakter serta spiritualitas kalangan generasi muda setempat.
Guru rohani penerima insentif ini merupakan para pengajar di lembaga-lembaga pendidikan nonformal keagamaan, seperti sekolah minggu di gereja, vihara dan sebagainya. Sasarannya meliputi agama Hindu, Budha, Kristen, Katolik dan Konghucu, masing-masing menerima Rp700.000 per tahun.
"Apa yang kami berikan mungkin tidak seberapa, tapi kami berharap ini bisa menambah motivasi para guru rohani dalam memperkuat spiritualitas di kalangan anak-anak kita, dengan demikian anak-anak tidak sekadar pintar namun juga memiliki karakter dan keyakinan yang kuat serta rasa kepedulian bagi sesama," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat penyaluran insentif di Pendopo Kabupaten Banyuwangi, Selasa.
Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan insentif yang diberikan kepada guru rohani itu menyesuaikan dengan keuangan daerah setempat.
Ipuk juga berpesan agar para guru rohani di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu menjadi role model sekaligus motivator bagi anak didiknya.
"Saat mengajar mohon selalu berikan motivasi kepada anak-anak agar mereka terus bersemangat belajar, melanjutkan pendidikan. Saat ini banyak anak yang tidak bersekolah bukan karena masalah ekonomi, tapi sebagian juga karena kurangnya motivasi," kata Ipuk.
Pemberian insentif disambut gembira para guru rohani, salah satunya Suster Justina Endang Wiharti. Ia mengaku gembira mendapatkan perhatian dari pemerintah karena insentif yang diberikan semakin menambah semangatnya dalam mengajar agama.
"Terima kasih telah memperhatikan kami, jujur ini membuat kami semakin bersemangat," katanya.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyuwangi Nur Chozin menyampaikan terima kasih atas perhatian Pemkab Banyuwangi.
"Di tengah keterbatasan dan efisiensi, Ibu Bupati masih memberikan perhatian dan alokasi anggaran bagi para guru rohani lintas agama," katanya.
Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.