Banda Aceh (ANTARA) - Dewan Pimpinan Pusat Partai Aceh (DPP-PA) menjadikan pertemuan rapat pimpinan (Rapim) 2026 sebagai momentum untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di internal partai.
"Rapim sudah diserahkan sama kita (oleh Ketua Umum Muzakir Manaf yang sedang berobat) untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada di PA," kata Sekjen DPP-PA, Aiyub Abbas alias Abuwa, di Banda Aceh, Jumat malam.
Pernyataan itu disampaikan Aiyub Abbas saat membuka Rapim Ban Sigom Aceh dengan tajuk "Udep Beusare Matee Beusajan, Sikrek Gaphan Saboh Saboh Keureunda", pada 19-21 September 2026, di Banda Aceh.
Kegiatan Rapim tersebut diikuti sebanyak 326 peserta yang terdiri dari unsur pengurus DPP, DPW se Aceh, Ketua KPA Wilayah, Bupati/Wali Kota utusan Partai Aceh, DPRA Fraksi PA dan seluruh sayap partai.
Salah satu masalah, kata dia, mengenai struktur kepengurusan di beberapa wilayah yang menimbulkan berbagai dinamika hingga belum dikeluarkan surat keputusannya.
Persoalan ini, diharapkan kepada panglima KPA di wilayah masing-masing dapat memediasi dan mencari jalan keluar terbaik. Kalau bisa, cukup aklamasi saja.
"Kalau boleh semua daerah aklamasi, jangan ribut. Panglima wilayah panggil yang berseteru untuk ada keputusan bersama, dan kita langsung teken (SK) kalau tidak ribut-ribut," ujarnya.
Selain penyelesaian masalah internal, lanjut Abuwa, Rapim ini juga sebagai langkah memperkuat konsolidasi menuju pemilu mendatang, dengan target 40 kursi di DPR Aceh. Serta, juga untuk merumuskan kebijakan yang sesuai kebutuhan masyarakat Aceh.
"Ini juga untuk kita memperkuat konsolidasi, melahirkan kebijakan strategis, serta apa kebutuhan masyarakat Aceh," kata Abuwa.
Sementara itu, Ketua DPR Aceh yang juga Bendahara Umum DPP-PA, Zulfadhli mengajak seluruh pimpinan Partai Aceh memperkuat kekompakan, menyatukan pandangan, dan menajamkan arah perjuangan politik untuk kepentingan masyarakat.
Rapim ini, kata dia, bukan sekedar konsolidasi biasa, tetapi juga menjadi momentum untuk menyatukan kembali pandangan dan langkah seluruh jajaran Partai Aceh.
“Ini bukan sekadar konsolidasi biasa. Ini adalah musyawarah yang sakral di tempat ini. Kita menyatukan kembali pandangan, menyamakan langkah dan menajamkan arah kiblat perjuangan politik kita,” kata Zulfadhli.
Ia menegaskan, setiap keputusan yang diambil harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat. Karena, masih banyak masyarakat Aceh yang menunggu pembangunan dan kebijakan yang benar-benar bermanfaat.
Maka dari itu, pria yang akrab disapa Abang Samalanga ini mengajak seluruh pimpinan yang hadir baik dari wilayah pesisir timur, barat, selatan, tengah hingga utara Aceh untuk melepaskan keraguan dan menjaga soliditas barisan.
“Mari kita buktikan bahwa kita bisa bekerja bersama, berbeda dalam pandangan, tetapi satu dalam tujuan, membawa Aceh dan bangsa untuk rakyat,” pungkas Zulfadhli.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.