Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa ritel asal Amerika Serikat (AS), Walmart Inc. (WMT), tengah menggelontorkan dana miliaran dolar AS untuk mengganti sebagian pekerjaan manusia di gudang-gudangnya dengan robot. Namun, ambisi yang sudah berjalan sekitar satu dekade itu ternyata penuh hambatan, mulai dari kardus yang tak muat hingga robot yang kerap mogok.
Dikutip dari The Wall Street Journal (WSJ), Walmart selama bertahun-tahun mengandalkan lebih dari 140.000 pekerja gudang. Mereka membongkar truk, memindahkan palet barang dengan forklift, menyortir dan menyimpan barang di rak-rak tinggi, lalu mengirimkannya kembali ke toko dan rumah konsumen. Seorang pekerja bisa berjalan hingga 20.000 langkah dalam satu shift.
Pekerjaan itu terbilang tidak rumit bagi manusia, tetapi lain cerita ketika harus diprogram ke robot. Salah satu contohnya adalah tugas breakpack, yakni mengeluarkan barang dari kardus untuk dikirim satu per satu. Walmart bersama perusahaan robotik mitranya sempat gagal menemukan cara agar robot bisa menyortir barang ke dalam wadah sambil bergerak di antara para pekerja. Teknologi yang diuji tidak berfungsi atau terlalu mahal.
Pada akhirnya, mereka merancang robot kecil beroda yang dilengkapi sensor gerak dan sensor rintangan. Robot ini kini dipasang di lebih dari selusin gudang.
"Kami sedang berada di puncak kompleksitas," ujar Kepala Operasional Rantai Pasok Walmart U.S. Rob Montgomery, yang memimpin transisi otomatisasi di sebagian besar dari sekitar 200 fasilitas rantai pasok Walmart di AS.
Masalah yang muncul terus bertambah. Kardus yang dipakai Walmart selama lebih dari dua dekade ternyata terlalu besar untuk sistem otomatis. Robot mini pengangkut barang terlalu sering rusak, sementara sistemnya belum mampu menangani produk berukuran besar seperti karung makanan anjing jumbo.
Walmart pun berencana membuang seluruh kardus lamanya dalam beberapa bulan ke depan. Kardus pengganti dibuat 1,5 inci lebih pendek dan harus direkatkan dengan lakban, langkah tambahan yang menambah biaya. Menurut Montgomery, kardus baru ini akan mempercepat penataan barang di toko sehingga menekan biaya tenaga kerja.
Kendala juga datang dari pemasok. Beberapa tahun lalu, menjelang lonjakan permintaan libur Thanksgiving, lengan robot di salah satu gudang grosir otomatis baru Walmart di California ternyata gagal memegang kalkun beku berukuran besar. Walmart pun meminta pemasoknya memperkuat kardus pengiriman. Untuk menutup lonjakan permintaan, gudang-gudang terdekat dikerahkan agar pasokan kalkun ke toko tetap tercukupi.
Tantangan lain adalah Walmart harus merombak gudangnya tanpa menghentikan operasional. Sekitar 80% proyek otomatisasinya merupakan retrofit, karena sebagian besar fasilitas rantai pasok perusahaan dibangun pada 1980-an dan 1990-an.
Robot Rusak karena Debu
Mitra utama Walmart dalam proyek ini adalah Symbotic, perusahaan robotik asal Massachusetts yang 12,6% sahamnya dimiliki Walmart. Pada 2022, Symbotic mengumumkan kesepakatan untuk memasang sistemnya di seluruh 42 pusat distribusi barang nonperishable Walmart hingga tahun 2030.
Namun, Symbotic disebut kesulitan memenuhi target throughput, atau kecepatan pemrosesan barang, yang dipatok Walmart. Robot-robotnya bisa terhenti hanya karena tumpukan debu, dan satu kemacetan dapat memicu rentetan masalah lain.
Juru bicara Symbotic menyebut, tahun lalu kurang dari 10% robot sedang dalam perbaikan pada satu waktu. Angka itu turun menjadi sekitar 5% dalam beberapa bulan terakhir.
"[Otomatisasi gudang Walmart] membutuhkan waktu, kerja keras, dan kemitraan kuat yang dilandasi kepercayaan," kata CEO Symbotic Rick Cohen.
Tekanan dari Amazon
Dorongan otomatisasi ini tidak lepas dari persaingan dengan Amazon, yang lebih maju dalam hal otomatisasi dan awal tahun ini menyalip Walmart sebagai perusahaan AS terbesar berdasarkan pendapatan tahunan.
"Dalam banyak kasus, investasi otomatisasi adalah perlombaan senjata [antarperitel]. Dan efek Amazon adalah gajah besar di dalam ruangan," ujar Senior Warehouse Automation Research Manager Interact Analysis Rueben Scriven.
Peritel yang tidak punya modal besar untuk menanggung masa uji coba panjang dinilai berada dalam posisi kurang menguntungkan. Pada musim gugur 2025, jaringan supermarket Kroger mencatat beban US$2,6 miliar untuk menutup tiga pusat pemenuhan pesanan e-commerce otomatis karena jaringan tersebut tidak memenuhi ekspektasi keuangan.
Para eksekutif Walmart mengakui otomatisasi pada akhirnya akan mengurangi kebutuhan pekerja gudang. Pekerjaan yang tersisa pun akan lebih banyak berupa mengelola atau memperbaiki sistem otomatis ketimbang mengangkat kardus.
Meski demikian, Walmart menegaskan langkah ini tidak akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) karena tingkat pergantian pekerja gudang memang tinggi. "Kami masih butuh orang untuk membongkar trailer," kata Montgomery. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan penjualan secara keseluruhan bisa membuat kebutuhan pekerja gudang tetap setara dengan saat ini.
Walmart memperkirakan belanja untuk renovasi toko dan otomatisasi rantai pasok akan mencapai puncaknya tahun ini dan tahun depan. Montgomery menyebut jajaran pimpinan dan dewan direksi memandang otomatisasi sebagai proyek jangka panjang yang sepadan, meski akan ada momen-momen berantakan.
"Kami tahu kalau menunggu sampai sempurna, itu akan memakan waktu terlalu lama," ujarnya.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]