Tapanuli Selatan (ANTARA) - PT Agincourt Resources (PTAR) terus mengembangkan riset agen hayati mikoriza sebagai bagian dari upaya meningkatkan keberhasilan reklamasi dan restorasi lahan di wilayah operasional Tambang Emas Martabe, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Syaiful Anwar, Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development Agincourt Resources di Batangtoru, Kamis, mengatakan mikoriza dikembangkan untuk membantu tanaman menyerap unsur hara dan meningkatkan kemampuan tumbuh, terutama pada media tanah yang memiliki keterbatasan nutrisi.
"Penggunaan agen hayati ini dinilai penting mengingat karakteristik lahan dan kondisi lingkungan di sekitar wilayah pertambangan," katanya yang didampingi Ikhsannul Amal (Research Assistant), dan Lutfi Hanafi (Research Assistant), Yuna Ratna Wulansari (Research Assistant).
Lanjut dikatakan, dalam prosesnya, tim peneliti mengambil sumber mikoriza dari tanah dan akar tanaman di hutan alam area Batang Toru, kemudian melakukan isolasi dan pengayaan spora. Dari proses tersebut, kepadatan spora yang semula kurang dari 100 spora per 100 gram tanah dapat ditingkatkan hingga sekitar 400-1.000 spora atau lebih per 100 gram melalui proses pengayaan.
"Tim kemudian melakukan uji respons dengan membandingkan tanaman yang diberi inokulum mikoriza dan tanaman tanpa mikoriza. Pengujian dilakukan untuk melihat pertumbuhan tanaman sekaligus memastikan kolonisasi mikoriza pada akar. Kultur yang menunjukkan respons pertumbuhan dan kolonisasi yang baik selanjutnya dinyatakan layak untuk diperbanyak," jelasnya.
Menurut dia, pengembangan mikoriza tersebut diarahkan untuk mendukung pembibitan tanaman lokal yang digunakan dalam reklamasi dan restorasi. PTAR saat ini telah mengembangkan sekitar 76 jenis tanaman lokal untuk mendukung pemulihan ekosistem, termasuk jenis yang menjadi sumber pakan satwa di kawasan hutan.
"Program ini tidak hanya diarahkan agar lahan bekas tambang kembali hijau, tetapi juga membentuk ekosistem yang memiliki keanekaragaman jenis dan mampu mendukung habitat flora serta fauna. Karena itu, penggunaan tanaman invasif dihindari dan perusahaan lebih mengutamakan spesies lokal yang sesuai dengan kondisi hutan alam sekitar," ujarnya.
Selain untuk reklamasi, lanjutnya, pengembangan mikoriza juga dipersiapkan untuk mendukung restorasi kawasan preservasi serta penelitian remediasi lingkungan. Tim peneliti tengah mengkaji potensi jenis mikoriza tertentu dalam membantu tanaman menghadapi kondisi tanah yang terkontaminasi logam serta lingkungan dengan tingkat keasaman tertentu.
Ia mengatakan, pengembangan agen hayati tersebut masih berada dalam tahap riset dan pengembangan, termasuk identifikasi spesies mikoriza melalui pengamatan morfologi dan rencana analisis molekuler atau DNA. Hasil riset diharapkan dapat menghasilkan formula yang tepat untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk dalam pemulihan lahan.
Lebih jauh, kata Saiful, bahwa PTAR juga melakukan pengawasan terhadap tanaman yang telah ditanam dan telah di inokulasi Mikoriza melalui asesmen secara berkala. Tanaman yang mati atau mengalami gangguan akan dilakukan penyulaman, sementara keberhasilan reklamasi secara formal tetap mengacu pada penilaian dan verifikasi pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.