AKURAT.CO Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tengah menghadapi "perang total" di bidang ekonomi, militer, dan keamanan di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada Minggu, Pezeshkian mengakui pemerintah belum mampu mengatasi kesulitan ekonomi, namun menegaskan Iran tidak akan menyerah pada sanksi Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan saat hubungan diplomatik Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu setelah implementasi nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar terhenti.
Pezeshkian: Iran berperang di berbagai lini
Dalam pidatonya yang dikutip kantor berita resmi IRNA, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sedang menghadapi konflik yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup tekanan ekonomi dan ancaman keamanan nasional.
"Kami berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan secara penuh," kata Pezeshkian.
Ia juga mengakui masyarakat masih menghadapi beban ekonomi yang berat. Menurutnya, pemerintah merasa bertanggung jawab atas kondisi tersebut dan terus berupaya mencari jalan keluar meski berada di bawah tekanan internasional.
Kritik sanksi Donald Trump
Pezeshkian secara khusus menyoroti kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menerapkan paket sanksi baru terhadap Iran. Ia menyebut ancaman tersebut sebagai upaya menjatuhkan Republik Islam melalui tekanan ekonomi paling keras.
Menurut Pezeshkian, Iran tetap bertahan dalam situasi yang ia gambarkan sebagai "perang yang tidak seimbang" dan menolak anggapan bahwa negaranya akan runtuh akibat sanksi.
Ia bahkan mengeklaim pihak lawan memperkirakan Iran akan mengalami nasib seperti Venezuela, namun justru menunjukkan ketahanan, solidaritas, dan persatuan yang mengejutkan dunia.
Serukan persatuan nasional
Di tengah krisis yang berlangsung, Pezeshkian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghindari perpecahan politik maupun konflik internal.
Ia menegaskan pemerintah bekerja semaksimal mungkin untuk menjaga persatuan nasional dan mengesampingkan kepentingan pribadi demi menghadapi tekanan eksternal yang terus meningkat.
Seruan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya Teheran membangun narasi ketahanan nasional di tengah kembali diberlakukannya pembatasan ekonomi oleh Amerika Serikat.
Sumber: Yenisafak