Prabowo Yakin Indonesia Mampu Hadapi El Nino Terdahsyat Tahun Ini
Jakarta -
El Nino tahun ini dinilai akan menjadi yang paling dahsyat. Namun, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan Indonesia diklaim akan bisa menghadapai tantangan tersebut.
Prabowo menyampaikan, di tengah permasalahan global yang khawatir akan kelaparan masal akibat kesulitan pangan dan cuaca tak menentu, Indonesia berada dalam keadaan aman. Ia mengungkapkan, swasembada pangan yang dahulu ditargetkan dalam empat tahun, berhasil tercapai dalam waktu satu tahun.
"Kita alhamdulillah dapat saya laporkan di majelis ini soal pangan, soal makanan untuk rakyat Indonesia kita berada dalam keadaan aman dan kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan termasuk tantangan El Nino, yang katanya tahun ini El Nino-nya akan berat, berarti El Nino yang paling dahsyat. Kita telah mencapai itu dengan keberanian menghadapi masalah," kata Prabowo dalam dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 & Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
El Nino adalah sebuah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk Indonesia.
Dikutip dari detikNews, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengklasifikasi intensitas El Nino menjadi tiga kategori, yaitu lemah, moderat, dan kuat. El Nino lemah berkisar antara 0.5 hingga 1.0, El Nino moderat 1.0 hingga 2.0, sedangkan El Nino kuat lebih dari 2.0. Syarat untuk diidentifikasikan sebagai El Nino adalah nilai indeks Nino 3.4 masuk dalam kategori El Nino minimal konsisten selama 5 bulan berturut-turut.
Lantas apa dampaknya? Menurut BMKG, dampaknya beragam dalam lingkup skala global. Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru, bisa meningkatkan curah hujan. Sementara di Indonesia secara umum dampaknya ialah kondisi kering dan berkurang curah hujan.
Fenomena El Nino di Pasifik tahun ini diperkirakan memiliki durasi yang cukup panjang, yakni sekitar delapan hingga sembilan bulan, terhitung sejak pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027.
Kondisi ini berdampak langsung pada keterlambatan awal musim hujan. Sektor pertanian, khususnya tanaman padi, terancam akibat berkurangnya curah hujan pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Selain pangan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman kolateral yang serius.
(hps/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA