Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan, Sekolah Rakyat ditujukan untuk membantu masyarakat yang paling kesulitan dan kurang berdaya. Menurut dia, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
"Memang Sekolah Rakyat kita wujudkan untuk membantu mereka yang paling susah mereka yang paling kurang berdaya. Jadi pembangunan kita sebagai bangsa tujuannya adalah untuk membuat seluruh rakyat Indonesia hidupnya layak, hidupnya baik," kata Prabowo saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, pada 7 Juni 2026.
Prabowo juga menekankan pentingnya upaya serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai bidang.
"Karena itu usaha untuk berbuat agar rakyat hidup baik hidup layak adalah usaha yang sangat besar. Kita harus bekerja keras di semua bidang, salah satu adalah pendidikan," ujarnya.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR, 14 Agustus 2026, Prabowo kembali menyoroti tujuan Sekolah Rakyat sebagai sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga yang paling tidak berdaya. Fasilitas yang disediakan meliputi ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman.
"Kalau orang tua mereka menghadapi nasib yang kurang baik, mengalami kondisi keterpurukan, kondisi kemiskinan, anak-anak mereka tidak boleh terus miskin," ungkap Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo juga menyampaikan sejumlah contoh siswa yang memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program tersebut. Salah satunya Muhammad Rizky Pratama, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan, yang sebelumnya pernah putus sekolah dan harus membantu menjual ikan.
Ada pula Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Citra hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya juga merupakan penyandang disabilitas.
Dalam pidato yang sama, Prabowo menyampaikan bahwa tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar berhasil meraih prestasi dalam Olimpiade Nasional Indonesia ke-15 pada bidang matematika, biologi, bahasa Indonesia, sejarah, dan sosiologi.
"Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak berdaya, paling tidak mampu, jika diberi kesempatan, diberi fasilitas, diberi bimbingan, bisa mencapai prestasi yang tertinggi," tuturnya.